Feeds:
Pos
Komentar

Apabila anda sedang mengalami stress, atau tensi anda naik, atau pusing yang berkepanjangan, atau mengalami nervous (salah satu jenis penyakit penyimpangan perilaku berupa uring-uringan, gelisah, takut, dll). Jika anda takut terkena tumor, maka sujud adalah solusinya. Dengan sujud akan terlepas segala penyakit nervous dan penyakit kejiwaan lainnya. Inilah salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Muhammad Dhiyaa’uddin Hamid, dosen jurusan biologi dan ketua departemen radiasi makanan di lembaga penelitian teknologi radiasi.

Sudah lumrah bahwasannya manusia apabila mengalami kelebihan dosis dalam radiasi, dan hidup di lingkungan tegangan listrik atau medan magnet, maka hal itu akan berdampak kepada badannya, akan bertambah kandungan elektrik di dalam tubuhnya. Oleh karena itu, Dr. Dhiyaa’ mengatakan bahwa sesungguhnya sujud bisa menghilangkan zat-zat atau pun hal-hal yang menyebabkan sakit.

Pembahasan Seputar Organ Tubuh. Dia adalah salah satu organ tubuh. dan dia membantu manusia dalam merasakan lingkungan sekitar, dan berinteraksi dengan dirinya, dan itulah tambahan dalam daerah listrik dan medan magnet yang dihasilkan oleh tubuh menyebabkan gangguandan merusak fungsi organ tubuh sehingga akhirnya mengalami penyakit modern yang disebut dengan “perasaan sumpeg”, kejang-kejang otot, radang tenggorokan, mudah capek/lelah, stress, sampai sering lupa, migrant, dan masalah menjadi semakin parah apabila tanpa ada usaha untuk menghindari penyebab semua ini, yaitu menjauhkan tubuh kita dari segala peralatan dan tempat-tempat yang demikian.

Solusinya ??? Harus dengan mengikuti sesuatu yang diridhai untuk mengeliminir hal itu semua, yaitu dengan bersujud kepada Satu-satunya Dzat yang Maha Esa sebagaimana kita sudah diperintah untuk hal itu, dimana sujud itu dimulai dengan menempelkan dahi ke bumi (lantai). Maka di dalam sujud akan mengalir ion-ion positif yang ada di dalam tubuh ke bumi (sebagai tempat ion-ion negatif). dan seterusnya sempurnalah aktivitas penetralisiran dampak listrik dan magnet. Lebih khusus lagi ketika sujud dengan menggunakan 7 anggota badan (dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki) maka dalam posisi ini sangat memudahkan bagi kita menetralisir dampak listrik dan magnet.

Diketahui selama penelitian, agar semakin sempurna proses penetralisiran dampak itu semua, maka sujud harus menghadap ke Makkah (Masjid Ka’bah), yaitu aktivitas yang kita lakukan di dalam shalat (qiblat). Sebab Makkah adalah pusat bumi di alam semesta. Dan penelitian semakin jelas bahwa menghadap ke Makkah ketika sujud adalah tempat yang paling utama untuk menetralisir manusia dari hal-hal yang mengganggu fikirannya dan membuat rileks. Subhanallah, pengetahuan yang menakjubkan.

A.  Orde Baru/ Orba (Demokrasi Pancasila)

Pada masa orde baru, pemerintah menjalankan kebijakan yang tidak mengalami perubahan terlalu signifikan selama 32 tahun. Dikarenakan pada masa itu pemerintah sukses menghadirkan suatu stablilitas politik sehingga mendukung terjadinya stabilitas ekonomi. Karena hal itulah maka pemerintah jarang sekali melakukan perubahan-perubahan kebijakan terutama dalam hal anggaran negara.

Pada masa pemerintahan orde baru, kebijakan ekonominya berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ekonomi tersebut didukung oleh kestabilan politik yang dijalankan oleh pemerintah. Hal tersebut dituangkan ke dalam jargon kebijakan ekonomi yang disebut dengan Trilogi Pembangungan, yaitu stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi yang stabil, dan pemerataan pembangunan.

Hal ini berhasil karena selama lebih dari 30 tahun, pemerintahan mengalami stabilitas politik sehingga menunjang stabilitas ekonomi. Kebijakan-kebijakan ekonomi pada masa itu dituangkan pada Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN), yang pada akhirnya selalu disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk disahkan menjadi APBN.

APBN pada masa pemerintahan Orde Baru, disusun berdasarkan asumsi-asumsi perhitungan dasar. Yaitu laju pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, harga ekspor minyak mentah Indonesia, serta nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Asumsi-asumsi dasar tersebut dijadikan sebagai ukuran fundamental ekonomi nasional. Padahal sesungguhnya, fundamental ekonomi nasional tidak didasarkan pada perhitungan hal-hal makro. Akan tetapi, lebih kearah yang bersifat mikro-ekonomi. Misalnya, masalah-masalah dalam dunia usaha, tingkat resiko yang tinggi, hingga penerapan dunia swasta dan BUMN yang baik dan bersih. Oleh karena itu pemerintah selalu dihadapkan pada kritikan yang menyatakan bahwa penetapan asumsi APBN tersebut tidaklah realistis sesuai keadaan yang terjadi.

Format APBN pada masa Orde baru dibedakan dalam penerimaan dan pengeluaran. Penerimaan terdiri dari penerimaan rutin dan penerimaan pembangunan serta pengeluaran terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Sirkulasi anggaran dimulai pada 1 April dan berakhir pada 31 Maret tahun berikutnya. Kebijakan yang disebut tahun fiskal ini diterapkan seseuai dengan masa panen petani, sehingga menimbulkan kesan bahwa kebijakan ekonomi nasional memperhatikan petani.

APBN pada masa itu diberlakukan atas dasar kebijakan prinsip berimbang, yaitu anggaran penerimaan yang disesuaikan dengan anggaran pengeluaran sehingga terdapat jumlah yang sama antara penerimaan dan pengeluaran. Hal perimbangan tersebut sebetulnya sangat tidak mungkin, karena pada masa itu pinjaman luar negeri selalu mengalir.

Pinjaman-pinjaman luar negeri inilah yang digunakan pemerintah untuk menutup anggaran yang defisit.
Ini artinya pinjaman-pinjaman luar negeri tersebut ditempatkan pada anggaran penerimaan. Padahal seharusnya pinjaman-pinjaman tersebut adalah utang yang harus dikembalikan, dan merupakan beban pengeluaran di masa yang akan datang. Oleh karena itu, pada dasarnya APBN pada masa itu selalu mengalami defisit anggaran.
Penerapan kebijakan tersebut menimbulkan banyak kritik, karena anggaran defisit negara ditutup dengan pinjaman luar negeri. Padahal, konsep yang benar adalah pengeluaran pemerintah dapat ditutup dengan penerimaan pajak dalam negeri. Sehingga antara penerimaan dan pengeluaran dapat berimbang. Permasalahannya, pada masa itu penerimaan pajak saat minim sehingga tidak dapat menutup defisit anggaran.

Namun prinsip berimbang ini merupakan kunci sukses pemerintah pada masa itu untuk mempertahankan stabilitas, khususnya di bidang ekonomi. Karena pemerintah dapat menghindari terjadinya inflasi, yang sumber pokoknya karena terjadi anggaran yang defisit. Sehingga pembangunanpun terus dapat berjalan.
Prinsip lain yang diterapkan pemerintah Orde Baru adalah prinsip fungsional. Prinsip ini merupakan pengaturan atas fungsi anggaran pembangunan dimana pinjaman luar negeri hanya digunakan untuk membiayai anggaran belanja pembangunan. Karena menurut pemerintah, pembangunan memerlukan dana investasi yang besar dan tidak dapat seluruhnya dibiayai oleh sumber dana dalam negeri.

Pada dasarnya kebijakan ini sangat bagus, karena pinjaman yang digunakan akan membuahkan hasil yang nyata. Akan tetapi, dalam APBN tiap tahunnya cantuman angka pinjaman luar negeri selalu meningkat. Hal ini bertentangan dengan keinginan pemerintah untuk selalu meningkatkan penerimaan dalam negeri. Dalam Keterangan Pemerintah tentang RAPBN tahun 1977, Presiden menyatakan bahwa dana-dana pembiayaan yang bersumber dari dalam negeri harus meningkat. Padahal, ketergantungan yang besar terhadap pinjaman luar negeri akan menimbulkan akibat-akibat. Diantaranya akan menyebabkan berkurangnya pertumbuhan ekonomi.

Hal lain yang dapat terjadi adalah pemerataan ekonomi tidak akan terwujud. Sehingga yang terjadi hanya perbedaan penghasilan. Selain itu pinjaman luar negeri yang banyak akan menimbulkan resiko kebocoran, korupsi, dan penyalahgunaan. Dan lebih parahnya lagi ketergantungan tersebut akan menyebabkan negara menjadi malas untuk berusaha meningkatkan penerimaan dalam negeri.

Prinsip ketiga yang diterapakan oleh pemerintahan Orde Baru dalam APBN adalah, dinamis yang berarti peningkatan tabungan pemerintah untuk membiayai pembangunan. Dalam hal ini pemerintah akan berupaya untuk mendapatkan kelebihan pendapatan yang telah dikurangi dengan pengeluaran rutin, agar dapat dijadikan tabungan pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah dapat memanfaatkan tabungan tersebut untuk berinvestasi dalam pembangunan.

Kebijakan pemerintah ini dilakukan dengan dua cara, yaitu derelgulasi perbankan dan reformasi perpajakan. Akan tetapi, kebijakan demikian membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama. Akibatnya, kebijakan untuk mengurangi bantuan luar negeri tidak dapat terjadi karena jumlah pinjaman luar negeri terus meningkat. Padahal disaat yang bersamaan persentase pengeluaran rutin untuk membayar pinjaman luar negeri terus meningkat. Hal ini jelas menggambarkan betapa APBN pada masa pemerintahan Orde Baru sangat bergantung pada pinjaman luar negeri. Sehingga pada akhirnya berakibat tidak dapat terpenuhinya keinginan pemerintah untuk meningkatkan tabungannya.
B. Masa Reformasi (Demokrasi Liberal)

Pada masa krisis ekonomi,ditandai dengan tumbangnya pemerintahan Orde Baru kemudian disusul dengan era reformasi yang dimulai oleh pemerintahan Presiden Habibie. Pada masa ini tidak hanya hal ketatanegaraan yang mengalami perubahan, namun juga kebijakan ekonomi. Sehingga apa yang telah stabil dijalankan selama 32 tahun, terpaksa mengalami perubahan guna menyesuaikan dengan keadaan.

Pemerintahan presiden BJ.Habibie yang mengawali masa reformasi belum melakukan manuver-manuver yang cukup tajam dalam bidang ekonomi. Kebijakan-kebijakannya diutamakan untuk mengendalikan stabilitas politik. Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid pun, belum ada tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan. Padahal, ada berbagai persoalan ekonomi yang diwariskan orde baru harus dihadapi, antara lain masalah KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), pemulihan ekonomi, kinerja BUMN, pengendalian inflasi, dan mempertahankan kurs rupiah. Malah presiden terlibat skandal Bruneigate yang menjatuhkan kredibilitasnya di mata masyarakat. Akibatnya, kedudukannya digantikan oleh presiden Megawati.

Masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri mengalami masalah-masalah yang mendesak untuk dipecahkan adalah pemulihan ekonomi dan penegakan hukum. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara lain :

a)Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 milyar pada pertemuan Paris Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116.3 triliun.

b)Kebijakan privatisasi BUMN. Privatisasi adalah menjual perusahaan negara di dalam periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatan-kekuatan politik dan mengurangi beban negara. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,1 %. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi, karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing.

Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tetapi belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi. Padahal keberadaan korupsi membuat banyak investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia, dan mengganggu jalannya pembangunan nasional.
Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono terdapat kebijakan kontroversial yaitu mengurangi subsidi BBM, atau dengan kata lain menaikkan harga BBM. Kebijakan ini dilatar belakangi oleh naiknya harga minyak dunia. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan, serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial kedua, yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak, dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial.Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan perkapita adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi. Salah satunya adalah diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006 lalu, yang mempertemukan para investor dengan kepala-kepala daerah.

Menurut Keynes, investasi merupakan faktor utama untuk menentukan kesempatan kerja. Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang selalu ditujukan untuk memberi kemudahan bagi investor, terutama investor asing, yang salah satunya adalah revisi undang-undang ketenagakerjaan. Jika semakin banyak investasi asing di Indonesia, diharapkan jumlah kesempatan kerja juga akan bertambah.

Pada pertengahan bulan Oktober 2006 , Indonesia melunasi seluruh sisa utang pada IMF sebesar 3,2 miliar dolar AS. Dengan ini, maka diharapkan Indonesia tak lagi mengikuti agenda-agenda IMF dalam menentukan kebijakan dalam negeri. Namun wacana untuk berhutang lagi pada luar negri kembali mencuat, setelah keluarnya laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara penduduk kaya dan miskin menajam, dan jumlah penduduk miskin meningkat dari 35,10 jiwa di bulan Februari 2005 menjadi 39,05 juta jiwa pada bulan Maret 2006. Hal ini disebabkan karena beberapa hal, antara lain karena pengucuran kredit perbankan ke sector riil masih sangat kurang (perbankan lebih suka menyimpan dana di SBI), sehingga kinerja sector riil kurang dan berimbas pada turunnya investasi. Selain itu, birokrasi pemerintahan terlalu kental, sehingga menyebabkan kecilnya realisasi belanja Negara dan daya serap, karena inefisiensi pengelolaan anggaran. Jadi, di satu sisi pemerintah berupaya mengundang investor dari luar negri, tapi di lain pihak, kondisi dalam negeri masih kurang kondusif.

Masalah pemanfaatan kekayaan alam:

Pada masa Orde Baru konsepnya bertolak belakang dengan orde lama.Apa yang bisa digadaikan; digadaikan. Kalo bisa ngutang ya ngutang. Yang penting bisa selalu makan enak dan hidup wah. Rakyat pun merasa hidup berkecukupan pada masa Orba. Beras murah, padahal sebagian adalah beras impor. Beberapa gelintir orang mendapat rente ekonomi yang luar biasa dari berbagai jenis monopoli impor komoditi bahan pokok, termasuk beras, terigu, kedelai dsb. Semua serba tertutup dan tidak tranparan. Jika ada orang mempertanyakan, diancam tuduhan subversif. Hutan dijadikan sumber duit, dibagi menjadi kapling-kapling HPH; dibagi-bagi ke orang-orang tertentu (kroni) secara tidak transparan. Ingat fakta sejarah: Orde Baru tumbang akibat demo mahasiswa yang memprotes pemerintah Orba yang bergelimang KKN. Jangan dilupakan pula bahwa ekonomi RI ambruk parah ditandai Rupiah terjun bebas ke Rp 16.000 per dollar terjadi masih pada masa Orde Baru.

Masa Reformasi krisis ekonomi parah sudah terjadi. Utang LN tetap harus dibayar. Budaya korupsi yang sudah menggurita sulit dihilangkan, meski pada masa Presiden SBY pemberantasan korupsi mulai kelihatan wujudnya.. Rakyat menikmati kebebasan (namun sepertinya terlalu “bebas”). Media masa menjadi terbuka.
Yang memimpikan kembalinya rezim totaliter mungkin hanyalah sekelompok orang yang dulu amat menikmati previlege dan romantisme kenikmatan duniawi di zaman Orba.Sekarang kita mewarisi hutan yang sudah rusak parah; industri kayu yang sudah terbentuk dimana-mana akibat dari berbagai HPH , menjadi muara dari illegal logging.

System pemerintahan:

Orde baru : kebijakan masih pada pemerintah, namun sektor ekonomi sudah diserahkan ke swasta/asing, fokus pada pembangunan ekonomi, sentralistik, demokrasi Pancasila, kapitalisme.

Soeharto dan Orde Baru tidak bisa dipisahkan. Sebab, Soeharto melahirkan Orde Baru dan Orde Baru merupakan sistem kekuasaan yang menopang pemerintahan Soeharto selama lebih dari tiga dekade. Betulkah Orde Baru telah berakhir? Kita masih menyaksikan praktik-praktik nilai Orde Baru hari ini masih menjadi karakter dan tabiat politik di negeri ini. Kita masih menyaksikan koruptor masih bercokol di negeri ini. Perbedaan Orde Baru dan Orde Reformasi secara kultural dan substansi semakin kabur. Mengapa semua ini terjadi? Salah satu jawabannya, bangsa ini tidak pernah membuat garis demarkasi yang jelas terhadap Orde Baru. Tonggak awal reformasi 11 tahun lalu yang diharapkan bisa menarik garis demarkasi kekuatan lama yang korup dan otoriter dengan kekuatan baru yang ingin melakukan perubahan justru “terbelenggu” oleh faktor kekuasaan.Sistem politik otoriter (partisipasi masyarakat sangat minimal) pada masa orba terdapat instrumen-instrumen pengendali seperti pembatasan ruang gerak pers, pewadahunggalan organisasi profesi, pembatasan partai poltik, kekuasaan militer untuk memasuki wilayah-wilayah sipil, dll.

Orde reformasi : pemerintahan tidak punya kebijakan (menuruti alur parpol di DPR), pemerintahan lemah, dan muncul otonomi daerah yang kebablasan, demokrasi Liberal (neoliberaliseme), tidak jelas apa orientasinya dan mau dibawa kemana bangsa ini.

Orde Lama

A. Pengertian Orde Lama

Orde Lama adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soekarno di Indonesia.

Orde Lama berlangsung dari tahun 1945 hingga 1968. Dalam jangka waktu tersebut, Indonesia menggunakan bergantian sistem ekonomi liberal dan sistem ekonomi komando.

Di saat menggunakan sistem ekonomi liberal, Indonesia menggunakan sistem pemerintahan parlementer. Presiaden Soekarno di gulingkan waktu Indonesia menggunakan sistem ekonomi komando.

Orde lama (Demokrasi Terpimpin), terdiri dari beberapa kejadian penting..

1. Masa Pasca Kemerdekaan (1945-1950)

Keadaan ekonomi keuangan pada masa awal kemerdekaan amat buruk, antara lain disebabkan oleh :

a. Inflasi yang sangat tinggi, disebabkan karena beredarnya lebih dari satu mata uang secara tidak terkendali. Pada waktu itu, untuk sementara waktu pemerintah RI menyatakan tiga mata uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu mata uang De Javasche Bank, mata uang pemerintah Hindia Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang. Kemudian pada tanggal 6 Maret 1946, Panglima AFNEI (Allied Forces for Netherlands East Indies/pasukan sekutu) mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang dikuasai sekutu. Pada bulan Oktober 1946, pemerintah RI juga mengeluarkan uang kertas baru, yaitu ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang. Berdasarkan teori moneter, banyaknya jumlah uang yang beredar mempengaruhi kenaikan tingkat harga.

b. Adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945 untuk menutup pintu perdagangan luar negeri RI.

c. Kas negara kosong.

d. Eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi, antara lain :

a.Program Pinjaman Nasional dilaksanakan oleh menteri keuangan Ir. Surachman dengan persetujuan BP-KNIP, dilakukan pada bulan Juli 1946.

b.Upaya menembus blokade dengan diplomasi beras ke India, mangadakan kontak dengan perusahaan swasta Amerika, dan menembus blokade Belanda di Sumatera dengan tujuan ke Singapura dan Malaysia.

c.Konferensi Ekonomi Februari 1946 dengan tujuan untuk memperoleh kesepakatan yang bulat dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi yang mendesak, yaitu : masalah produksi dan distribusi makanan, masalah sandang, serta status dan administrasi perkebunan-perkebunan.

d.Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) 19 Januari 1947
Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948, mengalihkan tenaga bekas angkatan perang ke bidang-bidang produktif.

e.Kasimo Plan yang intinya mengenai usaha swasembada pangan dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Dengan swasembada pangan, diharapkan perekonomian akan membaik (mengikuti Mazhab Fisiokrat : sektor pertanian merupakan sumber kekayaan).

2. Masa Demokrasi Liberal (1950-1957)

Masa ini disebut masa liberal, karena dalam politik maupun sistem ekonominya menggunakan prinsip-prinsip liberal. Perekonomian diserahkan pada pasar sesuai teori-teori mazhab klasik yang menyatakan laissez faire laissez passer. Padahal pengusaha pribumi masih lemah dan belum bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi, terutama pengusaha Cina. Pada akhirnya sistem ini hanya memperburuk kondisi perekonomian Indonesia yang baru merdeka.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi, antara lain :

a)Gunting Syarifuddin, yaitu pemotongan nilai uang (sanering) 20 Maret 1950, untuk mengurangi jumlah uang yang beredar agar tingkat harga turun.

b)Program Benteng (Kabinet Natsir), yaitu upaya menumbuhkan wiraswastawan pribumi dan mendorong importir nasional agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing dengan membatasi impor barang tertentu dan memberikan lisensi impornya hanya pada importir pribumi serta memberikan kredit pada perusahaan-perusahaan pribumi agar nantinya dapat berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional. Namun usaha ini gagal, karena sifat pengusaha pribumi yang cenderung konsumtif dan tak bisa bersaing dengan pengusaha non-pribumi.

c)Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 15 Desember 1951 lewat UU no.24 th 1951 dengan fungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi.

d)Sistem ekonomi Ali-Baba (kabinet Ali Sastroamijoyo I) yang diprakarsai Mr Iskak Cokrohadisuryo, yaitu penggalangan kerjasama antara pengusaha cina dan pengusaha pribumi. Pengusaha non-pribumi diwajibkan memberikan latihan-latihan pada pengusaha pribumi, dan pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional. Program ini tidak berjalan dengan baik, karena pengusaha pribumi kurang berpengalaman, sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah.

e)Pembatalan sepihak atas hasil-hasil Konferensi Meja Bundar, termasuk pembubaran Uni Indonesia-Belanda. Akibatnya banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya sedangkan pengusaha-pengusaha pribumi belum bisa mengambil alih perusahaan-perusahaan tersebut.

3. Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967)

Sebagai akibat dari dekrit presiden 5 Juli 1959, maka Indonesia menjalankan sistem demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme (segala-galanya diatur oleh pemerintah). Dengan sistem ini, diharapkan akan membawa pada kemakmuran bersama dan persamaan dalam sosial, politik,dan ekonomi (mengikuti Mazhab Sosialisme). Akan tetapi, kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah di masa ini belum mampu memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia, antara lain :

a)Devaluasi yang diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai uang sebagai berikut :Uang kertas pecahan Rp 500 menjadi Rp 50, uang kertas pecahan Rp 1000 menjadi Rp 100, dan semua simpanan di bank yang melebihi 25.000 dibekukan.

b)Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin. Dalam pelaksanaannya justru mengakibatkan stagnasi bagi perekonomian Indonesia. Bahkan pada 1961-1962 harga barang-baranga naik 400%.

c)Devaluasi yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000 menjadi Rp 1. Sehingga uang rupiah baru mestinya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah lama, tapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi. Maka tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi ini malah meningkatkan angka inflasi.
Kegagalan-kegagalan dalam berbagai tindakan moneter itu diperparah karena pemerintah tidak menghemat pengeluaran-pengeluarannya. Pada masa ini banyak proyek-proyek mercusuar yang dilaksanakan pemerintah, dan juga sebagai akibat politik konfrontasi dengan Malaysia dan negara-negara Barat. Sekali lagi, ini juga salah satu konsekuensi dari pilihan menggunakan sistem demokrasi terpimpin yang bisa diartikan bahwa Indonesia berkiblat ke Timur (sosialis) baik dalam politik, eonomi, maupun bidang-bidang lain.

Masalah pemanfaatan kekayaan alam.

Pada masa orde lama : Konsep Bung Karno tentang kekayaan alam sangat jelas. Jika Bangsa Indonesia belum mampu atau belum punya iptek untuk menambang minyak bumi dsb biarlah SDA tetap berada di dalam perut bumi Indonesia. Kekayaan alam itu akan menjadi tabungan anak cucu di masa depan. Biarlah anak cucu yang menikmati jika mereka sudah mampu dan bisa. Jadi saat dipimpin Bung Karno, meski RI hidup miskin, tapi Bung Karno tidak pernah menggadaikan (konsesi) tambang-tambang milik bangsa ke perusahaan asing. Penebangan hutan pada masa Bung Karno juga amat minim.

Sistem pemerintahan

Orde lama : kebijakan pada pemerintah, berorientasi pada politik,semua proyek diserahkan kepada pemerintah, sentralistik,demokrasi Terpimpin, sekularisme.

Persamaan kebijakan ekonomi pada masa orde lama, orde baru, dan reformasi.

  1. Sama-sama masih terdapat ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan

Setelah Indonesia Merdeka, ketimpangan ekonomi tidak separah ketika zaman penjajahan namun tetap saja ada terjadi ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan. Dalam 26 tahun masa orde baru (1971-1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan penduduk daerah termiskin meningkat dari 5,1 (1971) menjadi 6,8 (1983) dan naik lagi menjadi 9,8 (1997). Ketika reformasi ketimpangan distribusi pendapatan semakin tinggi dari 0,29 (2002) menjadi 0,35 (2006).

Sehingga dapat dikatakan bahwa kaum kaya memperoleh manfaat terbesar dari pertumbuhan ekonomi yang dikatakan cukup tinggi, namun pada kenyataanya tidak merata terhadap masyarakat.

2.  Adanya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme)
Orde Lama: Walaupun kecil, korupsi sudah ada.
Orde Baru: Hampir semua jajaran pemerintah koruptor (KKN).
Reformasi: Walaupun sudah dibongkar dan dipublikasi di mana-mana dari media massa,media elektronik,dll tetap saja membantah melakukan korupsi.

Hal ini menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat yang sulit untuk disembuhkan akibat praktik-pratik pemerintahan yang manipulatif dan tidak terkontrol.
3. Kebijakan Pemerintah

Sejak pemerintahan orde lama hingga orde reformasi kini, kewenangan menjalankan anggaran negara tetap ada pada Presiden (masing-masing melahirkan individu atau pemimpin yang sangat kuat dalam setiap periode pemerintahan sehingga menjadikan mereka seperti “manusia setengah dewa”). Namun tiap-tiap masa pemerintahan mempunyai cirinya masing-masing dalam menjalankan arah kebijakan anggaran negara. Hal ini dikarenakan untuk disesuaikan dengan kondisi: stabilitas politik, tingkat ekonomi masyarakat, serta keamanan dan ketertiban.

Kebijakan anggaran negara yang diterapkan pemerintah selama ini sepertinya berorientasi pada ekonomi masyarakat. Padahal kenyataannya kebijakan yang ada biasanya hanya untuk segelintir orang dan bahkan lebih banyak menyengsarakan rakyat. Belum lagi kebijakan-kebijakan yang tidak tepat sasaran, yang hanya menambah beban APBN. Bila diteliti lebih mendalam kebijakan-kebijakan sejak Orde Baru hingga sekarang hanya bersifat jangka pendek. Dalam arti kebijakan yang ditempuh bukan untuk perencanaan ke masa yang akan datang, namun biasanya cenderung untuk mengatur hal-hal yang sedang dibutuhkan saat ini.

C. Berakhirnya Orde Lama

setelah turunnya presiden soekarno dari tumpuk kepresidenan maka berakhirlah orde lama.kepemimpinan disahkan kepada jendral soeharto mulai memegang kendali.pemerintahan dan menanamkan era kepemimpinanya sebagai orde baru konsefrasi penyelenggaraan sistem pemerintahan dan kehidupan demokrasi menitipberatkan pada aspek kestabilan politik dalam rangka menunjang pembangunan nasional.untuk mencapai titik-titik tersebut dilakukanlah upaya pembenahan sistem keanekaragaman dan format politik yang pada prinsipnya mempunyai sejumlah sisi yang menonjol.yaitu;
1]adanya konsep difungsi ABRI
2]pengutamaan golonga karya
3]manifikasi kekuasaan di tangan eksekutif
4]diteruskannya sistem pengangkatan dalam lembaga-lembaga pendidikanpejabat
5]kejaksaan depolitisan khususnya masyarakat pedesaan melalui konsep masca mengembang [flating mass]
6]karal kehidupan pers
konsep diafungsi ABRI pada masa itu secara inplisit sebelumnya sudah ditempatkan oleh kepala staf angkatan darat.mayjen A.H.NASUTION tahun 1958 yaitu dengan konsep jalan tengah prinsipnya menegaskan bahwaperan tentara tidak terbatas pada tugas profesional militer belaka melainkan juga mempunyai tugas-tugas di bidang sosial politik dengan konsep seperti inilah dimungkinkan dan bahkan menjadi semacam kewajiban jikalau militer berpatisipasi dan bidang politik penerapan konjungsi ini menurut pennafsiran militer dan penguasa orde baru memperoleh landasan yuridi konstitusional di dalam pasal 2 ayat 1 UUD 1945 yang menegaskan majelis permusyawaratan rakyat.

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Guru adalah seseorang yang mempunyai tugas mengajar dan mendidik kepada orang lain. Guru termasuk salah satu faktor pendukung dalam mencari ilmu. Guru merupakan faktor penunjang maju dan mundurnya pendidikan atau ilmu yang ia ajarkan kepada peserta didik. Oleh karena itu tugas seorang guru sangatlah penting dan memiliki tangung jawab yang sangat besar.

Faktor guru seharusnya sangatlah diperhatikan, karena guru ini sangat berpengaruh  terhadap keberhasilan peserta didik. Maka dapat disimpulkan bahwa apabila seorang guru baik, maka akan berdampak baik pula kepada peserta didik- nya. Akan tetapi apabila sebaliknya, apabila seorang guru kurang baik maka akan berdampak kurang baik pula kepada peserta didiknya.

Oleh karena itu, apabila seorang guru menginginkan untuk menjadi guru yang baik atau Professional, maka guru tersebut harus menempuh beberapa syarat menjadi Guru Profesional. Salah satunya dengan memiliki Standar Kompetensi Guru. Seorang guru yang meningkat kualitas dan kuantitasnya maka akan meningkat pula kualitas dan kuantitas dari peserta didik yang ia ajarkan.

Melihat fenomena yang terjadi sekarang, banyak guru yang tidak melak-sanakan bahkan tidak mengetahui tentang Standar Kompetensi Guru. Meskipun sebenarnya dari pihak pemerintah Indonesia sudah mewajibkan seorang guru agar melaksanakan Standar Kompetensi Guru supaya menjadi Guru Professional dan dapat meningkatnya kualitas dan kuantitas guru tersebut dan  peserta didiknya. Standar Kompetensi Guru memiliki beberapa manfaat yang akan dirasakan bukan hanya oleh guru itu sendiri, melainkan oleh peserta didik, lingkungan, masyarakat dan yang lainnya. Akan tetapi mengapa masih saja terdapat guru yang tidak memiliki bahkan tidak mau melaksanakan Standar Kompetensi Guru.

Standar Kompetensi Guru terbagi atas empat macam, yaitu: Kompetensi Pedagogik, Kompetensi  Kepribadian, Kompetensi Professional dan Kompetensi Sosial. Keempat macam kompetensi tersebut saling berkaitan dan saling berhu-bungan antara satu dengan yang lainnya. Kompetensi Pedagogik merupakan kom-petensi yang sedang ramai sedang dibicarakan oleh para guru, karena didalam Kompetensi Pedagogik terdapat beberapa kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru. Kompetensi Pedagogik sangatlah berhubungan dengan peserta didik dan proses pembelajaran. Kompetensi Pedagogik merupakan salah satu bagian yang penting bagi keberhasilan didalam proses pembelajaran bagi peserta didik. Oleh karena itu Kompetensi Pedagogik seharusnya dimiliki dan diperhatikan oleh guru. Menurut pasal 28 ayat 3 butir a (E. Mulyasa, 2008: 75) menyatakan pengertian dari Kompetensi Pedagogik adalah :

Kompetensi Pedagogik adalah Kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Melihat dari pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa betapa besarnya pengaruh Kompetensi Pedagogik terhadap keberhasilan peserta didik. Maka Kompetensi Pedagogik haruslah dimiliki oleh seorang guru agar mening-katnya kualitas dan kuantitas dari guru tersebut dan peserta didikbya. Akan tetapi yang terjadi sekarang justru banyak guru yang tidak memerhatikan dan melaksanakan Kompetensi Pedagogik sehingga guru tersebut menjadi acuh terhadap keberhasilan peserta didik.

Apabila seorang guru tidak melaksanakan Kompetensi Pedagogik, maka guru tersebut tidak berkeinginan untuk mendapatkan keberhasilan dari proses pembelajaran dan mengembangkan potensi dan bakat dari peserta didik secara maksimal. Apabila hal ini terjadi maka akan berakibat fatal, baik terhadap guru itu sendiri maupun peserta didiknya karena tugas yang ia emban menjadi hal yang sia-sia. Hal ini sama saja dengan membunuh potensi dan bakat dari peserta didik itu sendiri, karena tidak dikembangkan. Bahkan hal ini sama saja dengan seorang guru yang tidak berkeinginan untuk memajukan pendidikan, dirinya sendiri dan peserta didik yang ia ajarkan.

Pada dasarnya kemampuan-kemampuan yang terdapat dalam Kompetensi Pedagogik terdapat pula didalam Konsep Pengajaraan Islam. Oleh karena itu  Kompetensi Pedagogik sebenarnya bukan berasal dari barat, akan tetapi berasal dari Konsep Pengajaran Islam, yang sudah menganjurkan dan Rosullah sendiri sudah memberikan contoh.

Melihat dari betapa pentingnya Kompetensi Pedagogik Guru yang seha-rusnya dimiliki oleh seorang guru, serta memperhatikannya dengan Konsep Pengajaran Islam. Maka penulis merasa tertarik untuk mengungkap, memban-dingkan dan menjelaskan tentang Kompetensi Pedagogik Guru tersebut menurut Ajaran Islam. Dari itu semua maka Penulis membuat karya tulis yang berjudul “KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU MENURUT AJARAN ISLAM”.

  1. B. Pembatasan Masalah

Berhubungan dengan masalah yang akan dibahas yaitu Standar Kompetensi Guru yang terdiri atas empat macam kompetensi, yaitu : Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Profesional dan Kompetensi Sosial. Agar pembahasan yang akan dibahas tidak terlalu banyak dan tidak terlalu meluas. Dan dikarenakan minimnya pengetahuan yang dimiliki oleh penulis, maka penulis hanya bisa membahas salah satunya, yaitu :

KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU

  1. C. Perumusan Masalah

Agar pembahasan karya tulis ini lebih terarah dan tetap berada dalam konteks yang diinginkan serta pembahasan yang akan dibahas tidak terlalu meluas maka penulis merumuskan masalah-masalah yang akan dibahas, sebagai berikut :

  1. Apa yang dimaksud dengan Kompetensi dan Guru ?
  2. Apa yang dimaksud dengan Kompetensi Guru ?
  3. Apa yang dimaksud dengan Kompetensi Pedagogik Guru ?
  4. Anjuran Islam terhadap Kompetensi Pedagogik Islam?
  1. D. Tujuan Penulisan

Dalam penulisan karya tulis ini, penulis memiliki beberapa tujuan penulisan, yang terdiri atas :

  1. Menjelaskan pengertian Kompetensi dan Guru.
  2. Menjelaskan pengertian Kompetensi Guru
  3. Menjelaskan pengertian Kompetensi Pedagogik Guru
  4. Menjelaskan Anjuran Islam terhadap Kompetensi Pedagogik Guru
  1. E. Metode dan  Teknik Penulisan

Metode yang akan digunakan oleh penulis dalam penulisan karya tulis ini adalah metode Deskriptif  “yaitu metode penulisan yang memotret suatu kejadian dengan cara menghimpun data–data atau informasi mengenai informasi– informasi mengenai kejadian yang sedang terjadi ”. ( Usep, 2008: 19 ).

Teknik yang akan digunakan oleh penulis dalam penulisan karya tulis ini adalah studi perpustakaan “yaitu pengumpulan keterangan–keterangan dan berbagai literatur sebagai bahan perbandingan atau acuan relevan dengan peristiwa yang dikaji ” (Usep, 2008: 19 ).

  1. F. Sistematika Penulisan

Agar lebih memudahkan pembaca yang membaca karya tulis ini, maka penulis membagi materi yang akan dibahas kedalam beberapa bagian (BAB) yang tersusun sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN, Meliputi : Latar Belakang Masalah, Pembatasan Masalah, Perumusan Masalah, Metode dan Teknik Penulisan, serta Sistematika Penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA STANDAR KOMPETENSI GURU Meliputi : Pengertian Kompetensi dan Guru, Pengertian Standar Kompetensi Guru, Pengertian Kompetensi Pedagogik Guru, dan Anjuran Islam terhadap Kompetensi Pedagogik Guru.

BAB III : ANALISIS KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU, Meliputi : Penjelasan Standar Kompetensi Guru, Penjelasan Kompetensi Pedagogik, serta Penjelasan tentang Anjuran Islam terhadap Kompetensi Pedagogik Guru.

BAB IV : PENUTUP, Meliputi  : Kesimpulan dan Saran – saran.

B A B   II

TINJAUAN TEORITIS

STANDAR KOMPETENSI GURU

  1. A. Pengertian Kompetensi dan Guru
  2. 1. Pengertian Kompetensi

Apabila ditinjau dari segi bahasa, kompetensi adalah “(kewenangan) kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal” (W.J.S Purwa-darminta, 1976: 518). Sedangkan dalam kamus komtemporer menjelaskan bahwa Kompetensi adalah “Kewenangan, wewenang, kekompetenan”. (Al-Barry dan Sofyan H.A.T, 2000: 172).

Hal ini pun diungkapkan oleh Muhibbin Syah (2000: 229) dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru menyatakan bahwa pengertian dasar kompetensi adalah (competency) “kemampuan atau kecakapan”. Sejalan dengan itu Loise Moqvist (2003) menyatakan bahwa “Competency has been defined in the light of actual circumstances relating to the individual and work” (kemampuan telah digambarkan dipandang dari sudut keadaan nyata berkenaan dengan individu dan pekerjaan). Hal ini pun dikemukakan oleh Len Helmos (1992) yang menyatakan bahwa :

A competence is a description of something which a person which works in a given occupational area should be able to do. It is a description of an action, behavior or outcome which a person should be able to demonstrate. Suatu kemampuan atau kewenangan adalah suatu uraian sesuatu (yang) yang (mana) seseorang (yang) bekerja di (dalam) occu-pational area ditentukan harus bisa dilakukan. (ini) merupakan suatu uraian dari suatu tindakan, hasil atau perilaku yang (mana) seseorang harus bisa mempertunjukannya.

Menurut McLeod (Muhibbin Syah, 2008: 229) Kompetensi disamping diartikan sebagai kemampuan, Kompetensi juga dapat berarti : ‘…the state of being legally competent or qualified, yakni keadaan berwewenang atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum’. Sedangkan menurut Kapmendiknas No. 045/U/2002 (Farida Sarimaya, 2008: 17) menyebutkan ‘Kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam menjalankan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu’.

Begitu pula dalam buku karangan E. Mulyasa (2004: 37) yang berjudul Kurikulum Berbasis Kompetensi (Konsep, Karakteristik dan Implementasi) menyebutkan bahwa “Kompetensi perpaduan dari pengetahuan, keterampilan nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. Pendapat ini pun didukung oleh McAshan (E.Mulyasa, 2004: 38) mengatakan bahwa :

is a knowledge, skills and abilities or capabilities that a person achieves, which become part of his or her being to the action he or she can satisfactorily perform particular cognitive, affective, and psychomotor behaviours. (diarikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik sebaik-baiknya).

Menurut Majmudin (2003) Kompetensi adalah “Spesifikasi dari penge-tahuan, keterampilan dan sikap yang dimiliki oleh seseorang. Serta penerapannya di dalam pekerjaan, sesuai dengan Standar Kinerja yang dibutuhkan oleh lapangan”. Sedangkan menurut Finch Crunkilton (E. Mulyasa, 2004: 38) menyebutkan bahwa : ‘Sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi yang diperlukan untuk menujang keberhasilan’.

Menurut E..Mulyasa (2008: 10) menyatakan bahwa Kompetensi itu sedikitnya terbagi atas dua kategori yakni :

  1. Kompetensi Profesional yaitu kemahiran merancang, melaksanakan dan menilai tugas sebagai guru yang meliputi penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pendidikan.
  2. Kompetensi Personal yang meliputi etika, moral, pengabdian kemampuan sosial dan spiritual.
  1. 2. Pengertian Guru

Ditinjau dari segi bahasa, Guru mempunyai arti “orang yang peker-jaannya mengajar” (W.J.S Purwadarminta, 1976: 335). Begitu pula menurut McLeod (Muhibbin Syah, 2008: 222) Teacher mempunyai arti ‘A person whose accupation is teaching other’ (seseorang yang pekerjaannya mengajar kepada orang lain).

Menurut M. Ngalim Purwanto (2000: 138) berpendapat bahwa : “Semua orang yang memberikan ilmu atau kepandaian tertentu kepada seseorang atau sekelompok orang dapat disebut sebagai guru”. Lain halnya dengan Claife (Muhibbin Syah, 2008: 252) ‘an authority in the disciplines relevant to education’ (yakni pemegang hak otoritas atas cabang ilmu-ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pendidikan). Hal ini pun diungkapkan oleh E. Mulyasa (2008: 38) dalam bukunya yang berjudul Menjadi Guru Profesional (Menciptakan Pembelajaran kreatif dan menyenangkan) menyatakan bahwa : “Guru harus mampu bertindak dan mengambil keputusan secara cepat, tepat waktu dan tepat sasaran terutama berkaitan dengan masalah pembelajaran dan pesarta didik, tidak menunggu perintah atasan atau kepala sekolah”.

Hal ini membuktikan bahwa sesungguhnya faktor Guru sangatlah menentukan maju dan mundurnya pendidikan. Pendapat ini pun dinyatakan oleh E. Mulyasa (2008: 5), “Guru merupakan komponen paling menentukan karena di tangan Gurulah Kurikulum, Sumber Belajar, Sarana dan Prasarana, dan Iklim pembelajaran menjadi suatu yang berarti bagi kehidupan peserta didik”. Dan dalam karangannya yang lain E. Mulyasa (2008: 35) menyatakan bahwa “Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal”.

Oleh karena itu Guru dituntut untuk menjadi Guru Profesional karena beratnya tanggung jawab yang ia emban tersebut. Muhibbin Syah, (2008: 230) menyatakan pengertian Guru Profesional adalah “Guru yang melaksanakan tugas keguruanya dengan kemampuan yang tinggi (Profisiensi) sebagai sumber kehidupan”. Bahkan Muhibbin Syah (2008: 256) mengambil kesimpulan dari pengertian guru profesional adalah “Guru yang kekompeten dan melaksanakan tugas mengajar sebagai satu-satunya profesi utama yang dilaksanakan”.

Sedangkan dalam Undang-Undang Republik Inbdonesia No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 ayat 1 (Usep, 2008: 2) menjelaskan bahwa :

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih dan menilai serta meng-evaluasi peserta didik pada anak usia dini melalui jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menegah.

Menurut E. Mulyasa (2008: 11) mengatakan bahwa :

Guru professional tidak hanya dituntut untuk menguasai bidang Ilmu, bahan ajar, metode pembelajaran, memotivasi peserta didik, memiliki keterampilan yang tinggi dan wawasan yang luas terhadap dunia pendi-dikan, tetapi juga harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang hakikat manusia dan masyarakat.

Menurut Glickman (E. mulyasa, 2008: 13) guru professional memiliki dua ciri yaitu ‘tingkat kemampuan yang tinggi dan komitmen yang tinggi’.

Tugas seorang Guru bukan hanya sekedar memberikan Ilmu kepada peserta didik. Hal ini dinyatakan oleh Derajat (Muhibbin Syah, 2008: 252) ‘Tugas Guru tentu tidak hanya menuangkan ilmu pengetahuan kedalam otak para sisiwa, tetapi juga melatih keterampilan (ranah karsa) dan menanamkan sikap serta nilai (ranah rasa) kepada meraka’. Pendapat ini didukung oleh Muhibbin Syah, (2008: 256) yang menyatakan bahwa Guru adalah “Tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar dalam arti mengembangkan ranah cipta, rasa, dan karsa siswa sebagai implementasi konsep ideal mendidik”.

  1. B. Pengertian Kompetensi Guru

Menurut Muhibbin Syah, (2008: 229) kompetensi professional guru dapat diartikan “Sebagai kemampuan dan kewenangan Guru dalam menjalankan keguruannya”. Sedangkan menurut E. Mulyasa (2008: 26) dalam bukunya ber-judul Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru menyatakan bahwa :

Kompetensi Guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, social dan spiritual yang secara kaffah membentuk kompetensi standar profesi Guru yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik, pembelajaran yang mendidik pengembangan pribadi dan profesionalisme.

Hal ini pun didukung oleh Farida Sarimaya (2008: 17) menyatakan bahwa “Komepensi dapat dimaknai sebagai pembulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang berwujud tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran”. Pendapat ini didukung oleh Akhmad Sudrajat (2008) yang menyatakan bahwa :

Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak atau kompetensi adalah spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimiliki seseorang serta penerapanya didalam pekerjaan sesuai dengan standar kinerja yang dibutuhkan oleh lapangan.

Dalam Undang-undang Republik Indonesia No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (E. Mulyasa, 2008: 25), menjelaskan bahwa : ‘Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh Guru dan Dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan’.

Menurut Broke and Stone (E. Mulyasa, 2008: 25) mengemukakan bahwa kompetensi guru sebagai ‘descriptive of qualitative nature of teacher behavior appears to be entirely meaningful’ (kompetensi guru merupakan gambaran kualitatif tentang hakikat perilaku guru  yang penuh arti). Lain halnya dengan pendapat Barlow (Muhibbin Syah, 2008: 229), menyebutkan bahwa ‘The ability of a teacher to responsibly perform his or her duties appropriately’ (Kompetensi guru merupakan kemempuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibanya secara langsung dan layak).

Sedangkan menurut Charles (E. Mulyasa, 2008: 25) mengemukaan bahwa kompetensi guru adalah ‘Competency as rational performance which satisfac-torily meets objective for a desired condition’ (kompetensi merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan).

Kompetensi guru terbagi atas empat macam, hal ini dinyatakan dalam Undang-Undang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintahan No.19/2005, (Farida Sarimaya, 2008: 17) menyatakan bahwa ‘Kompetensi Guru meliputi Kepribadian, Pedagogik, Profesional, dan Sosial’. Hal ini berarti bahwa seorang Guru Professional hendaknya memiliki kompetensi-kompetensi guru tersebut.

Dalam Standar Nasional Pendidikan pasal 28 ayat 3 butir a-d (E. Mulyasa, 2008) menjelaskan keempat kompetensi tersebut yang tersusun sebagai berikut :

  1. Kompetensi Pedagogik

Kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

  1. Kompetensi Kepribadian :

Kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlaq mulia.

  1. Kompetensi Profesional

Kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara meluas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik melalui Standar Kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.

  1. Kompetensi Sosial

Kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/ Wali peserta didik  dan masyarakat luar.

Keempat Kompetensi ini merupakan satu rumpun, sebagaimana yang dikemukakan oleh beberapa ahli (Farida Sarimaya, 2008: 24) bahwa ‘Kompetensi professional sebenarnya merupakan sebuah payung karena telah mencakup semua Kompetensi lainya’. Hal ini pun diungkapkan oleh Majmudin (2008) bahwa “Kompetensi tersebut bersifat menyeluruh dan merupakan sebuah satu kesatuan yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan saling mendukung”. Bahkan Farida Sarimaya (2008: 23) sendiri mengemukakan “bahwa sebenarnya keempat kompetensi (Pedagogik, Kepribadian, professional dan Sosial) tersebut dalam praktik merupan satu kesatuan yang utuh (Holistik)”.

  1. C. Pengertian Kompetensi Pedagogik Guru

Sebelum penulis membahas tentang pedagogik, terlebih dahulu penulis berkeinginan menjelaskan beberapa istilah yang berkaitan dengan pedagogik itu sendiri. Berikut ini penulis akan meyebutkan beberapa istilah-istilah lain dalam pedagogik menurut Usep (2008: 44-46), yakni :

  1. Paedagogos

Paedagogos ini diambil dari bahasa Yunani yang berasal dari kata Paes yang mempunyai arti ‘anak’. Dan Agoge yang mempunyai arti ‘saya membimbing atau saya meminpin’. Dengan demikian Paedagogos mempunyai arti memberi bimbingan kepada anak (Supratman Ahmad, Tt: 3-4). Dalam perkembangannya, istilah Paedagogos mempunyai arti suatu bimbingan yang berkaitan dengan orang dewasa kepada anak agar anak tumbuh menjadi dewasa.

  1. Paedagogia

Istilah ini juga diambil dari bahasa Yunani, berarti pergaulan dengan anak-anak. Pergaulan ini berlangsung dan dilaksanakan oleh orang dewasa kepada anak-anak. Paedagogia merupakan perubahan kata dari Paedagogos.

  1. Paedagogie.

Paedagogie mempunyai arti ‘pendidikan anak-anak’. Istilah ini mem-punyai arti hanya sekedar melakukan bimbingan dan pergaulan yang dilakukan orang dewasa kepada anak-anak, akan tetapi lebih luas lagi dengan memberikan pendidikan kepada anak. Paedagogie ini merupakan perubahan kata dari Paedagogia.

  1. Paedagogik

Dilihat dari arti istilah Paedagogik merupakan sebuah ilmu yang mesti dikaji dan dipelajari oleh orang dewasa atau seorang tenaga pendidik yang akan dan sedang dipersiapkan agar bisa membimbing, bergaul sekaligus bisa memberikan pendidikan kepada anak.

  1. Paedagog

Istilah Paedagog ini mempunyai arti orang yang ahli dalam mendidik. Orang yang ahli dalam mendidik tentunya tidak lepas dari mempelajari, menemukan serta mengkaji semua istilah dan seluk-beluk Pedagogik.

Itulah beberapa istilah dari kata Pedagogik. Dari semua istilah pendidikan diatas, maka dapat di mengerti bahwa pendidikan itu mutlak harus dilakukan orang dewasa kepada anak-anak (Usep, 2008: 46).

Seperti yang telah disebutkan dalam Standar Nasional Pendidik (E. Mulyasa, 2008: 75), tentang pengertian Kompetensi Pedagogik Guru, menyatakan bahwa :

Kompetensi Pedagogik adalah Kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Menurut Majmudin (2008) bahwa yang dimaksud dengan Kompetensi Pedagogik adalah “Kemampuan pemahaman tentang peserta didik secara mendalam dan penyelengaraan pembelajaran yang mendidik”.

RPP tentang Guru mengrumuskan kemampuan yang harus dimiliki seorang guru dalam menjalani Kompetensi Pedagogik, yang meliputi hal-hal berikut (E. Mulyasa, 2008: 75) :

  1. Pemahaman Wawasan atau Landasan Kependidikan.
  2. Pemahaman terhadap pesarta didik.
  3. Pengembangan Kurikulum atau Silabus.
  4. Perancangan Pembelajaran.
  5. Pelaksanaan Pembelajaran yang Mendidik dan Dialogis.
  6. Pemanfaatan Teknologi pembelajaran.
  7. Evaluasi hasil Belajar.
  8. Pengembangan peserta didik unuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
  1. D. Anjuran Islam terhadap Kompetensi Pedagogik Guru

Seperti yang telah disebutkan, didalam kompetensi pedagogik terdapat beberapa kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru. Dengan mengu-nakan landasan dalam Islam (Al-Qur’an, Al-Hadist dan perkataan para Sahabat) kemampuan-kemampuan tersebut sebenarnya sudah dianjurkan dan diberi contoh oleh Rosullah, hal itu berarti bahwa kompetensi pedagogik sudah diatur dan diperhatikan dalam Konsep Pengajaran Islam, yakni :

  1. a. Pemahaman Wawasan atau Landasan Kependidikan.

عن ا نس رضي ا لله عنه قال : قال رسول الله صلي الله عليه و سلم طلب العلم فريضة علي كل مسلم ووا ضع العلم عند غير اهله كمقلد الجنازير الجوهر واللؤلؤ والذهب. ابن ماجه.

Artinya : Dari An-Nas (Semoga Allah Meridoi kepadanya) ia berkata : Rosulah SAW telah bersabda “Mencari ilmu itu wajib hukumnya kepada seluruh muslim. Dan mendapatkan ilmu bukan pada ahlinya seperti mengalungi babi dengan permata, mutiara dan emas”.Ibnu Majah.

(A. Zakaria, 1413 [H]: 3).

  1. b. Pemahaman terhadap pesarta didik.

فبأبي و أمي ما رأيت معلما قبله ولا بعده أحسن تعليما منه فوالله ماكرهني ولاضربني ولاشتمني قال إنّ هذه الصلاة لايصلح فيها شيء من كلام الناس إنّماهو التسبيح والتكبيروقراءة القرءآن.مسلم

Artinya : Sesungguhnya demi ayahku dan ibuku, tidak pernah aku melihat seorang pengajar pun sebelumnya (Rosullah) ataupun sesudah-nya yang lebih baik mengajar darinya. Dan demi Allah, ia tak pernah membenciku, tidak pula pernah memukulku atau mencaciku. Ia berkata “Sesunguhnya shalat ini tidak layak padanya sedikitpun omongan manusia. Hanyasanya dia itu Tasbih, Takbir dan Qiratul Qur’an”. Muslim

(Dedeng Rosyidin, 2003: 95).

  1. c. Pengembangan Kurikulum atau Silabus.

قال علي رضي ا لله عنه : علموا أولاد كم فإنّهم خلقوا لزمان غير زمنكم

Artinya : Ali bin Abi Thalib berkata : “Ajarkanlah anak-anak kalian maka sesungguhnya mereka diciptakan untuk suatu zaman yang bukan zaman kalian” (A. Zakaria, 2003: 191).

  1. d. Perancangan Pembelajaran.

يا أيّها اللذين ءامنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدّمت لغد وااتقواالله إنّ الله خبير بما تعملون

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertaqwalah kepada Allah sesunggguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”

(Q. S Al-Hasr : 18)

  1. e. Pelaksanaan Pembelajaran yang Mendidik dan Dialogis.

دع بالحكمة  إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتى هي أحسن إن ربك هو  أعلم بمن ظل عن سبيله وهوأعلم بالمهتدين

Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. An-Nahl : 125).

  1. f. Pemanfaatan Teknologi pembelajaran.

اللذي علّم باللقلم

Artinya : “Yang mengajar (manusia) dengan mengunakan Pena”

(Q.S Al-‘Alaq : 4)

  1. g. Evaluasi hasil Belajar.

وكان جبريل يعارض رسول الله الله صلي الله عليه و سلم وكان أجود ألناس وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل و كان يلقاه جبريل في كلّ ليلة من رمضان فيدارسه القرأن فلرسول الله صلي الله عليه و سلم حين يلقاه جبريل أجود بالخير من الريح المرسلة.متفق عليه.

Artinya : Keadaan Jibril selalu mengetes Rosullah SAW. Sesungguhnya keadaan Rosullah adalah orang yang paling dermawan diantara manusia apalagi ketika bulan Ramadhan ketika Malaikat Jibril bertemu dengannya. Jibril bertemu dengan Rosullah dalam setiap malam dalam bulan Ramadhan. Maka Rosullah membaca Al-Qur’an ketika Jibril bertemu dengannya ketika Jibril bertemu dengannya.  Rosullah adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan seperti angin yang berhembus. Mutafaqun ‘Alaihi.

(A. Zakaria, 2003: 47).

  1. h. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

قال عمربن الخطاب : علموا أوﻻﺩكم  السباحة والرماية ومروهم فليثبواعلى ظهور الخيل وثبا. البيهقي.

Artinya : Umar Bin Khaththab berkata : “Ajarilah anak-anakmu berenang, memanah dan perintahlah mereka agar mereka dapat meloncat ke punggung kuda dengan baik” Baihaqi.

(A. Zakaria, 2003: 191).

BAB III

ANALISIS

KOMPETENSI PEDAGOGIK ISLAM

  1. A. Pengertian Kompetensi Guru

Kompetensi guru terdiri atas dua suku kata, yaitu Kompetensi dan Guru. Sebelum penulis menjelaskan pengertian dari Kompetensi Guru, terlebih dahulu penulis berkeinginan untuk menjelaskan pengertian dari dua kata tersebut. Agar lebih memudahkan dalam menjelaskan pengertian kompetensi guru tersebut.

Kompetensi secara bahasa mempunyai arti : “(kewenangan) kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal” (W. J. S Purwadarminta, 1976: 518). Hal ini berarti bahwa yang dimaksud dengan kompetensi secara bahasa adalah sesuatu hak atau kewenangan, kekuasaan untuk menentukan sesuatu hal. Apabila sesorang tidak memiliki kompetensi, maka orang tersebut tidak memiliki kekuasaan atau kewenangan untuk menentukan sesuatu hal.

Sedangkan menurut Undang-undang Republik Indonesia No. 14/ 2005 tentang Guru dan Dosen (E. Mulyasa, 2008: 25) menjelaskan pengertian dari kompetensi adalah ‘Seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh Guru dan Dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan’. Dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan seperangkat pendidikan yang harus dimiliki, dikuasai dan dihayati oleh seseorang agar dapat menjalankan tugas keprofesionalan dengan baik. Hal tersebut berarti bahwa kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki oleh seseorang, agar dapat menjalankan pekerjaannya dengan baik. Apabila seseorang tidak memiliki kompetensi maka orang tersebut tidak memiliki pendidikan dalam menjalani tugasnya, dan hasilnya pun tidak akan baik. Begitu pula dengan seorang guru, ketika ia menjalani tugasnya sebagai seorang guru maka ia harus memiliki pendi-dikan sebagai seorang guru agar tugasnya berjalan dengan baik.

Didalam pendidikan, mencakup atas pengetahuan, keterampilan dan kemampuan seseorang dalam menjalankan tugasnya Begitu pula ketika guru ter-sebut melaksanakan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hen-daknya seorang guru memiliki pendidikan sebelum ia menjalankan perilaku-perilaku teresbut agar memperoleh hasil yang lebih baik. Hal ini berarti, agar seorang guru menjadi guru profesionalan hendaknya ia memiliki pendidikan (Kompetensi) ketika ia menjalankan tugasnya.

Maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan kemampuan seseorang dalam menja-lankan tugas keprofesionalannya agar terciptanya hasil yang lebih baik. Apabila seorang guru tidak memiliki kompetensi maka guru tersebut sebenarnya tidak pantas untuk menjadi seorang guru karena guru tersebut tidak memiliki penge-tahuan, keterampilan dan kemampuan untuk menjadi guru profesional, dan hasilnya pun akan sia-sia.

Guru menurut bahasa adalah “setiap orang yang mengajar”. Mengajar adalah pekerjaan utama dari seorang guru, apabila terdapat seseorang yang mengajar maka ia dapat disebut sebagai seorang Guru (menurut bahasa). Hal ini pun diungkapkan oleh M. Ngalim Purwanto menyatakan bahwa seorang Guru adalah setiap orang yang memberikan ilmu kepada orang lain maka dapat disebut sebagai seorang guru. Memberikan ilmu kepada orang lain itun sama saja dengan mengajarkan orang tersebut. Dari kedua pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa seorang guru adalah orang yang mengajar kepada orang lain.

Kata “Ilmu” didalam pengertian yang disampaikan oleh M. Ngalim Purwan-to tersebut adalah kata yang umum tidak terkait dengan sebuah ilmu, baik itu ilmu umum atau agama, pelajaran formal atau Nonformal, sedikit ataukah banyak ilmu yang disampaikan. Melainkan seluruh jenis ilmu yang diajarkan kepada orang lain dan ilmu tersebut mendatangkan manfaat bagi orang yang diajarkan.Didalam pengertian tersebut pun terdapat kata “Semua orang”, kata ini pun memiliki arti umum, maka seorang yang memberikan ilmu tersebut tidak terkait dengan umur, profesi, jenis kelamin, ataupun hal yang lainnya. Melainkan semua orang

Maka dapat disimpulkan, seorang guru tidaklah terkait dengan jenjang atau tingkatan peserta didik, jumlah pesarta didik, umur peserta didik tersebut serta ilmu yang diajarkan oleh guru tersebut. Subjek dan objek dari pekerjaan guru tersebut bersifat umum. Siapa saja, kapan saja, dan dimana saja seseorang yang mengajarkan kepada orang lain dapat disebut sebagai seorang guru.

Didalam Undang-undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 pasal 1 ayat 1 (Usep, 2008: 2) menyatakan tugas-tugas utama sebagai seorang  guru ‘Pendidik Profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik para anak usia dini melalui jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah’.

Hal ini berarti bahwa seorang guru haruslah mengerjakan tugas-tugas tersebut dengan baik, agar menjadi pendidik (guru) profesional. Apabila seseorang melaksanakan tugas tersebut dan ia berada dalam jalur pendidikan formal maka ia dapat disebut sebagai guru.

Hal ini akan menimbulkan beberapa masalah, bagaimana apabila seseorang mengajar pada suatu media pendidikan formal (Sekolah) akan tetapi ia tidak melaksanakan tugas-tugas sebagai seorang guru. Apakah hal tersebut dapat disebut sebagai seorang guru? Dan bagaimana apabila terdapat seseorang yang melaksanakan tugas-tugas seorang guru akan tetapi ia tidak berada jalur pendidikan formal (sekolah). Apakah orang tesebut dapat disebut sebagai seorang Guru?

Apabila kita merujuk kepada pengertian yang dinyatakan oleh Undang-undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 pasal 1 ayat 1 tentang Guru dan Dosen tersebut. Maka seseorang yang tidak melaksanakan tugas-tugas sebagai seorang guru, belum bisa disebut sebagai pendidik profesional karena ia tidak menjalankan tugas-tugasnya sebagai seorang guru. Padahal tugas-tugas tersebut merupakan tuntutan yang harus dikerjakan oleh seorang guru agar ia menjadi pendidik profesional. Apabila ia ingin menjadi pendidik profesional hendaknya ia mengerjakan tugas-tugas tersebut.

Seseorang yang melaksanakan tugas-tugas seorang guru akan tetapi tidak berada dalam jalur pendidikan formal (sekolah). Orang tersebut dapat disebut sebagai seorang pendidik profesional akan tetapi ia belum bisa disebut sebagai seorang guru. Seperti orangtua, pembimbing (psikiater).

Oleh karena itu tugas sebagai seorang guru sangatlah berat dan memiliki tanggung jawab yang besar, karena guru mempunyai hubungan langsung dengan peserta didik tersebut. Apabila seorang guru dapat berhasil melaksanakan tugas-tugasnya sebagai seorang guru profesional maka peserta didik itu akan menjadi orang yang bermanfaat dan berguna baik itu bagi dirinya sendiri, lingkungannya, masyarakat dan yang lainnya

Pada BAB yang telah lalu, penulis memberikan beberapa pengertian dari seorang guru. Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang guru adalah setiap orang yang mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik agar ia mendapatkan sebuah ilmu yang bermanfaat.

Muhibbin Syah (2008: 229) menyatakan pengertian Standar Kompetensi Guru bahwa “kemampuan seorang guru dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang guru”. Jadi kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam menjalankan tugasnya disebut sebagai kompetensi guru. Hal ini berarti seorang guru yang menjalankan tugas-tugas keguruannya dengan memiliki kemampuan-kemampuan tersebut, maka guru tersebut telah memiliki Standar  Kompetensi Guru.

Secara mendasar kompetensi guru merupakan suatu pernyataan tentang kriteria seorang guru yang dipersyaratkan untuk menkadi seorang guru ditetapkan dan disepakati oleh para guru. Hal ini membentuk suatu penguasan pengetahuan, keterampilan dan sikap bagi seorang guru sehingga dapat disebut sebagai dapat disebutkan dengan kekompetenan.

Pada dasarnya pengertian-pengertian kompetensi guru yang telah diungkapkan oleh para ahli pada BAB sebelumnya mengarah kepada suatu hal dan pengertian tersebut merupakan kesimpulan dari pengertian kompetensi dan guru. Maka dapat disimpulkan, bahwa yang dimaksud dengan kompetensi guru adalah kekuasaan atau kemampuan seorang guru dalam menjalankan tugas-tugas keguruan yang berdasarkan pada pendidikan seorang guru agar menjadi seorang guru profesional dan memperoleh hasil yang lebih baik.

Hal ini berarti, setiap guru harus memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan dalam menjalankan tugas-tugasnya agar ia dapat melaksanakan tugas keprofesionalnya dengan sebaik-baiknya.

Pada dasarnya tujuan dari standar kompetensi guru adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas seorang guru dalam menjalankan tugasnya agra memperoleh hasil yang lebih baik. Seorang guru yang tidak memiliki kompetensi (kemampuan) untuk menjadi seorang guru, maka guru tersebut tidak dapat meningkatkan kualitas dan kuantitasnya untuk menjadi seorang guru.

Menurut Undang-undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 dan peraturan pemerintah No. 18/2005 (Farida Sarimaya, 2008: 17) membagi Standar Kompetensi menjadi empat  macam, yaitu :

  1. Kompetensi Pedagogik Guru
  2. Kompetensi Kepribadian
  3. Kompetensi Profesional
  4. Kompetensi Sosial

Keempat kompetensi tersebut bersifat menyeluruh dan merupakan satu kesatuan yang mana satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan mendu-kung. Ketika seseorang hendak unutk menjadi seorang guru hendaklah orang tersebut mengetahui dan mempraktekan Standar Kompetensi Guru tersebut. Kompetensi-Kompetensi Guru tersebut bukanlah sebuah pilihan yang harus memilih salah satu diantara yang empat, melainkan saling berhubungan dan harus dimiliki seluruhnya oleh seorang guru. Agar terciptanya pembelajaran yang efektif, dinamis dan memperoleh hasil yang lebih besar karena meningkatnya kualitas dan kuantitas seorang guru.

  1. B. Pengertian Kompetensi Pedagogik Guru

Majmudin (2008) mengutarakan pengertian dari kompetensi pedagogik guru ialah “Kemampuan pemahaman tentang peserta didik secara mendalam dan penyelengaraan pembelajaran yang mendidik”. Hal ini berarti bahwa kompetensi pedagogik guru adalah kemampuan seorang guru dalam memahami peserta didik secara mendalam dan kemampuan dalam menyelengarakan pembelajaran yang mendidik. Dapat disimpulkan bahwa kompetensi pedagogik guru mengarah ke-pada pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran dan mengarah pula terhadap metode pengajaran yang dilakukan oleh seorang guru.

Sedangkan didalam Standar Nasional Pendidikan pasal 28 ayat 3 butir a     (E. Mulyasa, 2008: 75) menjelaskan pengertian dari kompetensi pedagogik guru adalah ‘Kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya’. Pengertian tersebut menjelaskan bahwa kompetensi pedagogik guru ialah kemampuan seorang guru didalam mengelola atau mengatur pembelajaran yang diajarkan kepada peserta didik.

Didalam pengertian tersebut pun disebutkan beberapa kemampuan yang terdapat didalam kompetensi pedagogik guru. Apabila seorang guru memiliki kemampuan-kemampuan tersebut, maka guru tersebut dapat disebut telah memi-liki kompetensi pedagogik guru. Begitu pula dengan sebaliknya, apabila seorang guru tidak memiliki kemampuan-kemampuan tersebut maka guru tersebut belum memiliki kompetensi pedagogik guru.

E. Mulyasa (2008: 77) mengutarakan langkah seorang guru dalam menge-lola pembelajaran. Hal tersebut meliputi atas tiga kegiatan, yakni :

  1. Perencanaan

Sebelum seorang guru mengelola pembelajaran, hendaknya guru tersebut merencanakan pembelajaran yang akan ia kerjakan. Perencanaan pembela-jaran meliputi pembuatan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang akan dipakai. Jadi ketika guru tersebut melakukann proses pembelajaran guru terse-but telah memiliki tujuan yang berorientasi kedepan dan hal ini akan membantu guru tersebut dalam mengelola pembelajaran.

  1. Pelaksanaan

Seorang guru harus memberikan kepastian atas apa yang ia rencanakan seperti Sumber Daya Manusia yang memadai dan Sarana Prasarana yang diperlukan. Agar tujuan dan kompetensi yang direncanakan dapat terlaksanakan. Maka guru tersebut harus melaksanakan apa yang telah ia rencanakan.

  1. Pengendalian

Pengendalian pembelajaran bertujuan untuk mengarahkan pembelajaran kepada tujuan yang telah direncanakan. Apabila tidak ada kendali maka akan tidak pasti tujuan yang akan dicapai.

Sekurang-kurangnya didalam Kompetensi Pedagogik Guru terdapat delapan kemampuan yang harus dimiliki seorang guru. Penjelasannya sebagai berikut :

  1. 1. Pemahaman Wawasan atau Landasan Kependidikan.

Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan berarti Kemampuan seorang guru dalam memahami materi pembelajaran yang akan diajarkan. Seorang guru dituntut agar mengajar meteri pembelajaran yang sesuai dengan latar belakang keilmuan yang guru tersebut miliki sehingga guru tersebut memiliki keahlian secara akedemik dan intelektual. Seorang guru pun harus memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengajar agar materi pembelajaran yang diajarkan tidak salah dan salah tujuan. Secara otentik pengetahuan dan pengalaman tersebut dapat dibuktikan dengan ijasah akede-mik dan ijasah keahlian mengajar.

Oleh karena itu kemampuan seorang guru terhadap materi pembelajaran sangat diperhatikan karena akan berakibat fatal.

  1. 2. Pemahaman terhadap pesarta didik.

Seorang guru tidaklah lepas dengan peserta didik, karena tujuan dari hasil pembelajaran adalah keberhasilan dan pemahaman peserta didik terhadap materi yang diajarkan. Oleh karena itu seorang guru memiliki tanggung jawab yang besar terhadap keberhasilan peserta didik.

Seorang guru dituntut agar memiliki pemahaman terhadap psikologi perkembangan peserta didik, dan mengetahui latar belakang kepribadian dalam diri peserta didiknya. Agar dapat melakukan pendekatan dan pemaha-man yang benar. Apabila seorang guru dapat memahami peserta didiknya maka akan memudahkan guru tersebut dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya, dan memudahkan dalam proses peembelajaran.

Ketika peserta didik mengalami masa-masa sulit atau sebuah masalah, menjadi tugas seorang guru agar memberikan bimbingan kepada peserta didik tersebut agar dapat melalui masa-masa sulit itu dengan benar dan masalah yang dihadapi dapat terselesaikan dan tidak menjadi hambatan dalam proses pembelajaran.

Pemahaman terhadap peserta didik berarti kemampuan seorang guru dalam memahami peserta didik. Apabila seorang guru memiliki kemampuan tersebut maka akan memudahkan dalam proses pembelajaran.

  1. 3. Pengembangan Kurikulum atau Silabus.

Pengembangan kurikulum dan silabus adalah kemampuan seorang guru dalam mengembangkan kedua hal tersebut. Ketika seorang guru dapat mengembangan kurikulum dan silabusnya maka proses pembelajaran dapat berjalan dapat berkembang pula kearah yang lebih baik. Kemampuan ini menuntut seorang guru agar kreatif dan memiliki tujuan yang berorientasi jauh kedepan. Apabila kurikulum dan silabus dapat berkembang dengan baik maka hasilnya pun akan lebih baik.

  1. 4. Perancangan Pembelajaran.

Sebelum melakukan pembelajaran hendaknya seorang guru merancang pembelajaran yang akan dilakukan secara startegis dan matang, karena perancangan adalah setengah jalan menuju kesuksesan. Perancangan pembelajaran berarti kemampuan seorang guru dalam merancang kegiatan pembelajaran yang akan dikerjakan. Perancangan yang baik maka akan memperoleh hasil yang lebih baik pula. Oleh karena kemampuan seorang guru dalam merancang pembelajaran haruslah dipersiapkan dengan baik agar memperoleh hasil yang lebih baik

Menurut E. Mulyasa (2008: 100) berpendapat bahwa sedikitnya perancangan pembelajaran mencakup tiga kegiatan, yaitu:

  1. Identifikasi Kebutuhan.

Pada bagian ini seorang guru memberi tahukan, mengenali, menyatakan serta mengrumuskan tentang kebutuhan belajar, sumber-sumber pembelajaran, serta hambatan-hambatan yang akan dihadapi agar terpenuhinya kebutuhan belajar kepada peserta didik. Identifikasi kebutuhan akan mendatangkan menfaat yang besar terhadap kelancaran keberhasilan peserta didik, agar lebih termotivasi dalam belajar dan lebih mengetahui halangan dan rintangan yang akan ia hadapi.

  1. Identifikasi Kompetensi.

Kompetensi merupakan komponen yang harus dirumuskan dalam pembelajaran dan memiliki peran yang penting dan menentukan arah pembelajaran. Oleh karena itu seorang guru haruslah merencanakan kompetensi pembelajaran yang akan dipakai sebelum melakukan pembelajaran.

  1. Identifikasi Program Pembelajaran.

Pada bagian ini seorang guru merancangkan program pembelajaran yang akan dikerjakan. Perancangan ini bermuara pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebagai produk pembelajaran jangka pendek.

  1. 5. Pelaksanaan Pembelajaran yang Mendidik dan Dialogis.

Pelaksanaan pembelajaran berangkat dari proses dialogis antara sesama subjek pembelajaran sehingga dapat menghasilkan pemikiran baru dan komunikasi. Pelaksanaan pembelajaran ini diharapkan akan merangsang kesadaran masyarakat dalam menghadapi gejolak dalam kehidupan. Dalam hal ini guru menciptakan situasi belajar bagi anak yang kreatif, aktif dan menyenangkan. Serta guru memberikan ruang agar anak dapat melaksanakan potensi dan kemampuan sehingga dapat dilatih dan dikembangkan.

Jadi dapat disimpulkan pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis adalah kemampuan seorang guru dalam menciptakan situasi pembelajaran yang dinamis, aktif dan menyenangkan.

  1. 6. Pemanfaatan Teknologi Pembelajaran.

Dengan semakin majunya perkembangan zaman, menimbulkan teknologi-teknologi baru yang bertujuan membantu dan memudahkan seseorang dalam menjalani kehidupannya. Begitu pula dengan teknologi pembelajaran, semakin mudahnya seseorang dalalm mendapatkan materi pembelajaran. Hal tersebut menuntut agar seseorang dapat memanfaatkan teknologi-teknologi tersebut.

Begitu pula dengan seorang guru, guru dituntut agar dapat memanfaatkan teknologi tersebut agar memudahkan dan mengefektifkan kegiatan pembelajaran. Hal ini pun digunakan untuk membiasakan peserta didik untuk berinteraksi dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran.

  1. 7. Evaluasi hasil Belajar.

Evaluasi hasil belajar berarti kemampuan seorang guru dalam mengevalusi hasil belajar peserta didik. Evaluasi hasil belajar ini meliputi kepada perancangan, respon peserta didik, hasil belajar peserta didik, metode dan pendekatan belajar. Evaluasi hasil belajar dapat dilakukan dengan penilaian tes, tes kemampuan dan penilaian akhir.

Guru dapat melaksanakan evaluasi hasil belajar setelah merencanakan penilaian yang tepat, pengukuran yang benar dan membuat kesimpulan dan solusi secara tepat.

  1. 8. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya berarti kemampuan seorang guru dalam mengembangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Berkemampuan untuk membimbing peserta didik, menjadi wadah bagi peserta didik untuk mengenali potensi yang ia dimiliki serta melatih dan mengembangkan potensi tersebut agar dapat diaktualisasikan dalam kehidupan.

Seorang guru dapat mengembangkan potensi yang terdapat di peserta didik dengan cara mengadakan kegiatan Ekstra Kulikuler (EKSKUL), pengayaan, pemantapan, remedial serta bimbingan dan konseling.

Kemampuan – kemampuan yang telah dijelaskan diatas, adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru, dan semua itu tersebut terangkum didalam Kompetensi Pedagogik Guru. Pada dasarnya kemampuan–kemampuan tersebut dilakukan agar terciptanya pembelajaran yang dinamis, aktif, menyenangkan dan memudahkan seseorang guru didalam menjalani proses pembelajaran tersebut.

  1. C. Anjuran Islam terhadap Kompetensi Pedagogik Guru

Seperti yang telah diuraikan pada BAB sebelumnya, tentang anjuran Islam terhadap kompetensi pedagogik guru. Berikut ini adalah penjelasan dari anjuran kompetensi pedagogik guru menurut ajaran Islam yang berlandasan pada Al-Qur’an, Al-Hadist dan perkataan para Sahabat.

Penjelasannya sebagai berikut :

  1. 1. Pemahaman Wawasan atau Landasan Kependidikan.

Pada pembahasan yang telah lalu, dijelaskan bahwa pemahaman wawasan atau landasan kependidikan ialah kemampuan seorang guru dalam menguasai pelajaran yang diajarkan. Oleh karena itu, seorang guru dituntut agar memiliki latar belakang keilmuan dan wawasan terhadap materi pembelajaran yang ia ajarkan sehingga guru tersebut memiliki keahlian secara akademik dan intelektual.

Sebagaimana di dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Anas

عن ا نس رضي ا لله عنه قال : قال رسول الله صلي الله عليه و سلم طلب العلم فريضة علي كل مسلم ووا ضع العلم عند غير اهله كمقلد الجنازير الجوهر واللؤلؤ والذهب.

Artinya : Dari An-Nas (Semoga Allah Meridoi kepadanya) ia berkata : Rosulah SAW telah bersabda mencari ilmu itu wajib hukumnya kepada seluruh muslim. Dan mendapatkan ilmu bukan pada ahlinya seperti mengalungi babi dengan permata, mutiara dan emas. (A. Zakaria, 1413 [H]: 3).

Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa apabila seseorang mendapatkan ilmu bukan dari ahlinya seperti mengalungi babi dengan permata, mutiara dan emas. Apakah tidak rugi mengalungi babi dengan permata, mutiara dan emas. Walaupun permata, mutiara dan emas adalah benda termahal, terindah dan menawan akan tetapi ketika dipakaikan kepada babi maka permata, mutiara dan emas tersebut tidak akan menjadi daya tarik kepada orang lain.

Pengertian dari kalimat mendapatkan ilmu bukan pada ahlinya, hal ini dapat diartikan sebagai mendapatkan ilmu dari seorang guru yang bukan pada bidangnya. Hal ini menuntut seorang guru agar mengajarkan kepada peserta didik materi pembelajaran yang memang bidangnya.

Sedangkan kalimat  permata, mutiara dan emas dapat diartikan sebagai Ilmu. Permata, mutiara dan emas adalah barang yang sangat indah, mahal dan menawan. Akan tetapi ketika permata, mutiara dan emas tersebut dikalungi kepada babi, maka benda tersebut akan menjadi sia-sia dan tidak berarti. Begitu pula dengan ilmu, Ilmu sangat berharga, bermanfaat dan berguna. Akan tetapi ketika ilmu itu salah maka akan menjadi sia-sia, bahkan bisa sampai berbahaya.

Dengan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa mendapatkan ilmu bukan pada ahlinya seperti mengalungi babi dengan permata, mutiara dan emas. Hal ini membuktikan bahwa mencari ilmu kepada ahlinya merupakan sebuah keharusan, agar tidak terjadi hal yang sia-sia dan berbahaya.

Begitu pula dengan seorang guru, seharusnya seorang guru mengajarkan apa yang memang ia ahli dalam bidang tersebut agar ia tidak mengajarkan materi yang salah. Perintah Rosul tersebut seharusnya menjadi motivasi bagi para guru dalam terus mencari ilmu dan menguasai materi yang diajarkan agar tidak manjadi hal yang sia-sia dan salah dalam mengajar.

Dengan perintah dari Rosullah tersebut membuktikan bahwa pemahaman seorang guru terhadap materi yang diajarkan sudah dianjurkan didalam Konsep Pengajaran Islam.

  1. 2. Pemahaman terhadap pesarta didik.

Pemahaman terhadap peserta didik berarti kemampuan seorang guru dalam memahami psikologi perkembangan peserta didik, latar belakang kepribadian peserta didik dan segala hal yang berkenaan dengan kepribadian peserta didik agar guru tersebut tidak salah dalam memahami peserta didik-nya. Sehingga guru tersebut dapat membantu dalam menyelesaikan berbagai jenis masalah yang dihadapi oleh peserta didik tersebut, dan memberikan kemudahan didalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Keberhasilan peserta didik adalah tujuan utama dalam pembelajaran. Apabila terjadi kesukaran dalam menjalani proses pembelajaran maka akan menjadi hambatan bagi keberhasilan peserta didik tersebut. Maka hal ini menuntut seorang guru agar dapat membantu dalam menyelesaikan masalah yang dialami peserta didik agar tidak terjadi hambatan bagi peserta didik tersebut. Ketika peserta didik mendapatkan sebuah masalah, hal ini akan ber-dampak pula terhadap psikologi peserta didik tersebut. Hal ini yang menjadi tanggung jawab bagi seorang guru dalam membantunya.

Rosullah SAW adalah orang yang sangat lembut dan pengertian terhadap peserta didiknya. Ketika sedang memberikan nasihat, beliau selalu memer-hatikan peserta didiknya, apa yang ia pikirkan, karakter dalam dirinya, sikapnya, tingkah lakunya dan hal yang lainnya. Rosullah selalu berusaha untuk memahami peserta didiknya agar mudah dalam menyampaikan nasihat yang ia akan berikan. Beliau tidak pernah memakai bahasa yang sulit untuk dimengerti. Ketika memberikan sebuah nasihat beliau selalu disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta keadaan dari peserta didiknya. Hal tersebut merupakan bentuk pemahaman Rosullah terhadap peserta didiknya.

Sebagaimana dalam sebuah hadist menyatakan :

فبأبي و أمي ما رأيت معلما قبله ولا بعده أحسن تعليما منه فوالله ماكرهني ولاضربني ولاشتمني قال إنّ هذه الصلاة لايصلح فيها شيء من كلام الناس إنّماهو التسبيح والتكبيروقراءة القرءآن. مسلم

Artinya : Sesungguhnya demi ayahku dan ibuku, tidak pernah aku melihat seorang pengajar pun sebelumnya (Rosullah) ataupun sesudahnya yang lebih baik mengajar darinya. Dan demi Allah, ia tak pernah membenciku, tidak pula pernah memukulku atau mencaciku. Ia berkata “Sesunguhnya shalat ini tidak layak padanya sedikitpun omongan manusia. Hanyasanya dia itu Tasbih, Takbir dan Qiratul Qur’an”. Muslim

(Deden Rorisidin, 2003: 95).

Hadist diatas menjelaskan bahwa Rosullah tidak pernah membenci, memukul dan memaki peserta didiknya. Hal ini membuktikan bahwa sesung-guhnya seorang guru tidak boleh melakukan hal-hal tersebut agar dapat menimbulkan rasa nyaman, tenang dan tentram didalam peserta didik. Apabila seorang guru melakukan hal-hal tersebut maka akan menimbulkan rasa ketidak nyamanan dan tekanan didalam peserta didik dan hal tersebut dapat menimbulkan kesukaran didalam menjalani proses pembelajaran. Akan tetapi ketika peserta didik merasa nyaman, tenang dan tentram maka akan mudah didalam menjalani proses pembelajaran.

Dengan sikap Rosul yang seperti itulah, menjadi penyebab kedekatan antara Rosul dengan peserta didiknya. Begitu pula dengan seorang guru harus berusaha untuk memahami peserta didik, agar terciptanya kemudahan didalam menjalani proses pembelajaran. Hal tersebut membuktikan bahwa kemampuan seorang guru dalam memahami peserta didik agar memudahkan dalam memberikan materi pembelajaran sudah diberi contoh oleh Rosullah.

  1. 3. Pengembangan Kurikulum atau Silabus.

Pengembangan kurikulum dan silabus berarti kemampuan seorang guru dalam mengembangkan kurikulum dan silabus. Ketika seorang guru mengem-bangkan kurikulum dan silabus maka akan menimbulkan manfaat yang sangat besar, karena hal tersebut mengarah kepada sesuatu yang lebih baik. Kemam-puan ini menuntut seorang guru agar selalu kreatif dalam menciptakan suasana pembelajaran yang dinamis, aktif dan menyenangkan.

Islam menganjurkan unatnya agar selalu berkembang dan menyesuaikan diri terhadap zaman ia tinggal. Ketika kehidupan semakin kompleks, majunya teknologi dan manambahnya kebutuhan manusia maka berakibat timbulnya banyak berbagai jenis masalah baru, hal tersebut menuntut manusia agar mempersiapkan hal tersebut. Ali bin Abi Thalib memberikan nasehat pada seluruh umat Islam agar mempersiapkan hal tersebut dengan belajar :

قال علي رضي ا لله عنه : علموا أولاد كم فإنّهم خلقوا لزمان غير زمنكم

Artinya : Ali bin Abi Thalib berkata : “Ajarkanlah anak-anak kalian maka sesungguhnya mereka diciptakan untuk suatu zaman yang bukan zaman kalian.” (A. Zakaria, 2003: 191).

Mengembangkan kurikulum dan silabus berarti mengajarkan peserta didik agar bersiap dalam menjalani kehidupannya yang akan datang. Ketika zaman semakin berkembang maka menuntut pula para guru agar mengem-bangkan kurikulum dan silabusnya agar peserta didiknya tidak tertinggal. Apabila seorang guru tidak mengembangkan kurikulum dan silabusnya maka hal tersebut sama saja dengan tidak mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi kehidupannya maka peserta didiknya pun akan tertinggal. Perkataan Ali bin Abi Thalib tersebut menuntut para orangtua (guru) agar selalu mengajarkan anaknya (peserta didiknya), agar ia dapat mempersiapkan diri didalam menjalani kehidupannya yang akan datang.

Hal ini berarti bahwa Islam sudah menganjurkan para umatnya agar selalu berkembang. Begitu pula dengan kemampuan seorang guru dalam mengembangkan kurikulum dan silabusnya.

  1. 4. Perancangan Pembelajaran.

Merancang pembelajaran berarti mempersiapkan atau merencanakan segala seuatunya sebelum melakukan proses pembelajaran. Apabila seorang guru mempersiapkan atau merencanakan segala sesuatunya sebelum melaku-kan proses pembelajaran, maka akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik, lebih tersusun dan lebih rapih. Dengan perancangan yang matang maka hasilnya pun akan lebih baik. Akan tetapi apabila seorang guru tidak melakukan perancangan pembelajaran sebelum melakukan proses pembela-jaran maka guru tersebut belum siap melakukan pembelajaran.

Allah SWT berfirman didalam surat Al-Hasr : 18

يا أيّها اللذين ءامنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدّمت لغد وااتقواالله إنّ الله خبير بما تعملون

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertaqwalah kepada Allah sesunggguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”

(Q. S Al-Hasr : 18)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman hendaknya memperhatikan segala sesuatunya yang akan ia lakukan pada hari esok. Hal tersebut membuktikan bahwa seseorang haruslah mempersiapkan atau meren-canakan apa yang akan ia hadapi pada hari esok tersebut agar memperoleh hasil lebih baik.

Sama halnya dengan seorang guru, hendaknya merancang sebelum melakukan proses pembelajaran agar proses pembelajaran berjalan dengan mudah dan memperoleh hasil yang lebih baik. Ayat tersebut menunjukan bahwa merancang sebelum melakukan proses pembelajaran sudah diperha-tikan dalam Konsep Pengajaran Islam agar terciptannya pembelajaran yang  aktif, dinamis dan menyenangkan.

  1. 5. Pelaksanaan Pembelajaran yang Mendidik dan Dialogis.

Melaksanakan proses pembelajaran menuntut para guru agar mencip-takan situasi pembelajaran yang lebih baik. Hal tersebut dapat mengem-bangkan rasa kreatif dari peserta didik, aktif dan suasana pembelajaran pun akan menjadi menyenangkan. Peserta didik memiliki potensi dan bakat berbeda-beda, hal tersebut menjadi tanggung jawab seorang guru untuk mengembangkannya. Dengan menciptakan situasi pembelajaran yang mendi-dik dan dialogis maka dapat membantu dalam mengembangkan potensi dan bakat tersebut.

Al-Qur’an menjelaskan tentang metode pengajaran menurut Al-Qur’an, didalam surat An-Nahl : 125, yaitu :

ٲدع  إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتى هي أحسن إن ربك هو  أعلم بمن ظل عن سبيله وهوأعلم بالمهتدين

Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

(Q.S. An-Nahl : 125).

Metode mengajar menurut Al-Qur’an ada tiga macam, yakni بالحكمة (Hikmah), والموعظة الحسنة (pengajaran yang baik) dan وجادلهم بالتى هي أحسن (berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik). Hikmah adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dan yang bhatil.

Pengajaran yang baik berarti menuntut seorang guru agar mengajarkan peserta didik dengan cara yang baik (mendidik). Proses yang baik maka akan memperoleh hasil yang lebih yang lebih baik pula, karena peserta didik akan mudah memahami terhadap materi yang diajarkan. Kemampuan seorang guru dalam mengajar harus diperhatikan karena banyak orang yang pintar akan tetapi ia tidak bisa mengajarkan kepintarannya itu kepada orang lain. Konsep pengajaran ini sudah diperhatikan didalam Konsep Pengajaran Islam.

Berdebat dengan mereka dengan cara yang baik berarti berdialog dengan peserta didik dengan cara yang baik. Metode pengajaran ini menuntut peserta didik agar mengutarakan pendapatnya, agar terdapat komunikasi antara guru dan peserta didik. Metode pengajaran ini mengajarkan peserta didik agar tidak Taqlid (Ikut-ikutan). Metode pengajar seperti ini banyak Allah contohi didalam Al-Qur’an, metode yang menganjurkan lawannya agar ia bertanya dan berkomunikasi atau berdialog dengan lawannya.

Kemampuan seorang guru didalam melaksanakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, sudah dianjurkan terlebih dahulu didalam konsep pengajaran Islam.

  1. 6. Pemanfaatan Teknologi pembelajaran.

Semakin berkembangnya suatu zaman, menimbulkan beberapa teknologi-teknologi baru dengan tujuan memperoleh kemudahan didalam menjalani kehidupan manusia. Begitu pula dengan seorang guru didalam mendapatkan wawasan atau pengetahuan, dengan memanfaatkan teknologi yang ada maka memudahkan dalam mendapatkan materi pembelajaran. Hal tersebut menghasilkan manfaat yang sangat besar apabila guru tersebut dapat memanfaatkan teknologi pembelajaran tersebut. Misalnya dengan internet dan televisi kedua teknologi dapat memberikan banyak informasi terbaru, lengkap dan jelas. Maka dari hal ini menuntut seorang guru agar dapat memanfaatkan teknologi agar terciptanya proses pembelajaran yang mudah dan efektif.

Allah SWT menganjurkan manusia agar belajar dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Pada surat Al-Alaq ayat 4, menjelaskan bahwa:

اللذي علّم باللقلم

Artinya : “Yang mengajar (manusia) dengan mengunakan Pena”

(Q.S Al-‘Alaq : 4)

Pena adalah sebuah teknologi yang dapat membantu manusia dalam mendapatkan materi pembelajaran. Ayat tersebut menganjurkan pengajar agar mengajarkan materi pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran. Hal tersebut menuntut para guru agar dapat memanfaatkan teknologi agar materi yang didapatkan lebih lengkap dan jelas.

Kemampuan seorang guru dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran sudah dianjurkan didalam Konsep Pengajaran Islam.

  1. 7. Evaluasi hasil Belajar.

Evaluasi hasil belajar berarti kemampuan seorang guru dalam mengevaluasi hasil dari proses pembelajaran. Evaluasi belajar ini digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dan menilai hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Apakah materi yang telah diberikan dapat dimengerti oleh peserta didik dan dapat diaplikasikan dalam kehidapanya atau tidak. Evaluasi ini pun dapat menilai metode pengajaran seorang guru terhadap peserta didiknya.

Selama bulan Ramadhan malaikat Jibril selalu mengevaluasi bacaan Al-Qur’an Rosullah SAW sebagaimana didalam suatu riwayat :

وكان جبريل يعارض رسول الله الله صلي الله عليه و سلم وكان أجود ألناس وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل و كان يلقاه جبريل في كلّ ليلة من رمضان فيدارسه القرأن فلرسول الله صلي الله عليه و سلم حين يلقاه جبريل أجود بالخير من الريح المرسلة

Artinya : Keadaan Jibril selalu mengetes Rosullah SAW. Sesungguhnya keadaan Rosullah adalah orang yang paling dermawan diantara manusia apalagi ketika bulan Ramadhan ketika Malaikat Jibril bertemu dengannya. Jibril bertemu dengan Rosullah dalam setiap malam dalam bulan Ramadhan. Maka Rosullah membaca Al-Qur’an ketika Jibril bertemu dengannya ketika Jibril bertemu dengannya.  Rosullah adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan seperti angin yang berhembus. (A. Zakaria, 2003: 47).

Walaupun Rosullah sudah mendapatkan jaminan bahwa ia tidak akan pernah lupa dengan bacaan Al-Qur’an akan tetapi Malaikat Jibril tetap mengevaluasi bacaan Rosullah. Hal ini menunjukan bahwa evaluasi hasil belajar sangatlah penting dan harus dikerjakan oleh para guru walaupun peserta didik sudah menguasai materi pembelajaran. Evaluasi hasil belajar terhadap peserta didik dilakukan agar tidak terjadi kesalahan dan lupa dengan hasil pembelajaran yang telah dilakukan.

Rosullah pun suka mengevaluasi para sahabatnya, yang beliau ajarkan. Kemampuan seorang guru didalam mengevaluasi hasil belajar ini sudah dikerjakan didalam konsep pengajaran Islam.

  1. 8. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Setiap peserta didik memiliki potensi, apabila potensi tersebut dapat berkembang dan dapat diaktualisasikan didalam kehidupan maka membuat peserta didik tersebut maju, begitu juga dengan sebaliknya. Oleh karena itu, hal tersebut menuntut seorang guru agar memiliki kemampuan dalam mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik agar menjadi suatu hal yang berguna. Seorang guru harus menjadi pembimbing bagi peserta didik, menjadi wadah bagi peserta didik dalam rangka mengenali potensi yang dimiliki serta melatih dan mengembangkan potensi tersebut.

Potensi yang dimiliki oleh peserta didik itu berbeda-beda, hal tersebut menjadi tantangan bagi guru dalam mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik. Umar Bin Khaththab menganjurkan umat Islam agar mengem-bangkan potensi yang dimiliki anaknya (peserta didik) :

قال عمربن الخطاب : علموا أوﻻﺩكم  السباحة والرماية ومروهم فليثبواعلى ظهور الخيل وثبا

Artinya : Umar Bin Khaththab berkata : “Ajarilah anak-anakmu berenang, memanah dan perintahlah mereka agar mereka dapat meloncat ke punggung kuda dengan baik”

(A.              Zakaria, 2003: 191).

Setiap anak (peserta didik) tidak ada yang lahir dengan langsung memiliki kemampuan yang hebat dan cerdas, akan tetapi tergantung orang yang mengajarkannya dan mengembangkan anak tersbut. Perkataan Umar tersebut menganjurkan umat Islam agar melatih kemampuan-kemampuan kepada anaknya (peserta didiknya) agar ia mampu dan berguna.

Kemampuan seorang orangtua (guru) dalam mengembangkan potensi ini sangat sulit akan tetapi seorang orangtua (guru) harus dapat mengembang-kannya karena hal tersebut menjadi tanggung jawab seorang orangtua (guru). Orangtua (guru) pun adalah orang yang paling dekat dengan anak (peserta didik) oleh karena itu menjadi kewajiban bagi orangtua tersebut.

Hal ini berarti bahwa kemampuan seorang guru dalam mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik sudah diperintahkan didalam Konsep Pengajaran Islam.

BAB IV

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Setelah penulis membahas masalah Kompetensi Pedagogik Guru menurut ajaran Islam, pengertian Kompetensi dan Guru, pengertian Standar Kompetensi Guru, Kompetensi Pedagogik Guru, dan Anjuran Islam terhadap Kompetensi Pedagogik Guru. Agar lebih memudahkan dan memberikan gambaran secara ringkas dan menyeluruh, maka penulis menyimpulkan beberapa masalah tersebut sebagai berikut :

  1. Pengertian Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan serta kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugasnya agar dapat memperoleh  hasil yang lebih baik. Guru adalah setiap orang yang mengajar, mendidik, melatih, menilai serta mengevaluasi peserta didik agar peserta didik tersebut mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
  2. Standar Kompetensi Guru adalah kekuasaan atau kemampuan seorang guru didalam menjalankan tugasnya sebagai seorang guru yang berdasarkan atas pengetahuannya agar menjadi guru professional. Standar Kompetensi Guru terdiri atas empat macam, yaitu : Kompetensi Pedagogik Guru, Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Profesional, Kompetensi Sosial.
  3. Kompetensi Pedagogik Guru ialah kemampuan seorang guru dalam memahami pesarta didik secara mendalam dan menjalankan tugasnya secara mendidik. Kompetensi Pedagogik Guru terdiri dari delapan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu :
    1. Pemahaman wawasan dan landasan kependidikan.
    2. Pemahaman terhadap peserta didik.
    3. Pengembangan kurikulum dan silabus.
    4. Perancangan pembelajaran.
    5. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis.
    6. Pemanfaatan teknologi pembelajaran.
    7. Evaluasi hasil belajar.
  4. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
  5. Anjuran Islam terhadap Kompetensi Pedagogik Guru, dapat diuraikan sebagai berikut :
    1. Pemahaman wawasan dan landasan kependidikan.

Sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh An-Nas, maka dapat disimpulkan bahwa hendaknya kita mencari ilmu kepada ahlinya agar tidak menjadi hal yang sia-sia.

  1. Pemahaman terhadap peserta didik.

Pernyataan para sahabat dan sifat Rosullah dalam mengajarkan sesuatu kepada peserta didiknya beliau selalu memperhatikan sikap, sifat dan karakteristik peserta didiknya, hal ini berarti bahwa Rosullah memperhatikan pemahaman terhadap peserta didik. Begitu pula dengan seorang guru harus memperhatikan pemahaman terhadap peserta didik agar proses pembelajaran berjalan dengan baik.

  1. Pengembangan kurikulum dan silabus.

Pernyataan Ali bin Abi Thalib, menjelaskan bahwa hendaknya para pendidik mengajarkan kepada peserta didik yang disesuaikan dengan zamannya. Hal ini pun berarti bahwa guru harus mengembangkan kurikulum dan silabus pembelajaran, agar pembelajaran lebih bermanfaat dan disesuaikan dengan zaman peserta didik tersebut.

  1. Perancangan pembelajaran.

Surat Al-Hasr ayat 18, menjelaskan bahwa hendaknya manusia mempersiapkan segala sesuatunya sebelum menghadapi sesuatu. Begitu pula dengan seorang guru haruslah merancang pembelajaran sebelum melakukan pembelajaran agar proses pembelajaran lebih terorganisir, terarah dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

  1. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis.

Surat An-Nahl ayat 125, menganjurkan metode pembelajaran yang mendidik dan dialogis.

  1. Pemanfaatan teknologi pembelajaran.

Surat Al-Alaq ayat 4, menganjurkan agar pendidik memanfaatkan teknologi pembelajaran. Begitu pula seorang guru haruslah memiliki kemampuan dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran agar hasil lebih baik dan bermanfaat.

  1. Evaluasi hasil belajar.

Rosullah selalu diuji dalam bacaan Al-Qur’an, walaupun padahal Rosullah sudah dijamin kehapalannya. Seorang guru pun dituntut agar memiliki kemampuan dalam mengevaluasi hasil belajar tersebut agar proses pembelajaran tidak menjadi hal yang sia-sia.

  1. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Dalam pernyataan Umar bin Khaththab, menganjurkan agar para pendidik mengajari serta mengembangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Hal ini berarti bahwa seorang guru harus memiliki kemampuan dalam mengembangkan potensi tersebut, agar bisa berguna dan bermanfaat.

  1. Saran-saran

Bertolak dari pembahasan yang telah dibahas, penulis berkeinginan untuk memberikan saran-saran, yang tersusun sebagai berikut :

  1. Berhubung kompetensi guru terdiri dari empat macam dan penulis telah membahas salah satu diantaranya, maka penulis menganjurkan kepada para akedemis yang akan datang diharapkan agar membahas kompetensi guru yang lainnya (Kompetensi Profesional, Kepribadian dan Sosial).
  2. Melihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis, maka penulis menganjurkan kepada guru agar memiliki dan melaksanakan Kompetensi Pedagogik Guru. Karena pentingnya Kompetensi Pedagogik itu sendiri, bagi keberhasilan peserta didik, guru maupun proses belajar yang dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Al- Qur’an (2005) Bandung : CV. Diponogoro.

Al-Barry dan Sofyan. (2000) Kamus Ilmiah Komtemporer. Bandung : Pustaka Setia

Majmudin. (2008) Kompetensi Pedagogik Guru Indonesia [OnLine]. Tersedia: Www.Google/Kompetensi/Kompetensi Pedagogik Guru Indonesia. com [29-September 2008].

Mulyasa, E. (2008) Menjadi Guru Profesional (Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan). Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, E. (2008) StandarKompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, E. (2008) Kurikulum Berbasis Kompetensi (Konsep, Karakteristik dan Implementasi). Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Purwadarminta, W.J.S (1976) Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Purwanto, M.Ngalim. (200 ) Ilmu Keguruan Teoritis dan Praktis. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Rosidin, Dedeng. (2003) Akar-akar Pendidikan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist. Bandung : Pustaka Umat.

Sarimaya, Farida. (2008) Sertifikasi Guru (Apa, Mengapa, dan Bagaimana) Bandung ;

Syah, Muhibbin. (2008) Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru Bandung :

Sudrajat, Akhmad. (2008) Kompetensi Guru dan Kepala Sekolah [OnLine]. Tersedia : http://www.Google/Kompetensi/ Kompetensi Guru dan Kepala Sekolah.com. [29-September 2008].

Usep, M.Pd. (2008) Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kinerja Guru SMK (Study tentang Kontribusi Kompetensi Pedagogik, Motivasi Kerja dan Supervisi kepala sekolah terhadap Kinerja Guru SMK Negeri di Lingkungan Dinas Pendidikan Kab. Garut Thn.2007-2008 dengan mengunakan Metode Multiple Classification Analysis / MCA) Tesis Magisterpada PPS UPI Bandung : Tidak diterbitkan.

Usep, M.Pd. (2008) Pedoman penyusunan dan Penulisan Paper. Garut : Tidak diterbitkan.

Zakaria. A (2003) Etika Hidup seorang Muslim. Garut : Ibn Azka

Zakaria. A (2003) Jadul Muta’alim. Garut : Ibn Azka.

Zakaria. A (2003) Jami’ul Bayan fi Ulumul Qur’an. Garut : Ibn Azka.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama                                       : Muhammad Zacky

Tempat Tanggal Lahir             : Jakarta, 02 – November – 1990

Alamat                                    : Jln. Situ Asih III No. 16. Rt 01/08. Kel. Rangkapan Jaya. Kec. Pancoran Mas. Kab. Depok.

Nama Orang Tua

  1. Ayah                           : Ir. Umar Faruq
  2. Ibu                               : Dra. Eva Zulva N. MM

Pekerjaan Orang Tua

  1. Ayah                           : Wiraswasta
  2. Ibu                               : Dosen

Pengalaman pendidikan

  1. SD                               : SDIT Nurul Fikri                              (1996-2002)
  2. Tsanawiyyah               : MTs. Persis 99 Rancabango              (2002-2005)
  3. Mu’allimin                   : Mu’allimin Persis 99 Rancabango     (2005-2009)

Pengalaman Organisasi

  1. Sekbid Kaderisasi RG      : 2005-2006
  2. Sekretaris Umum RG        : 2006-2007
  3. Sie. Publikasi HIPA          : 2006
  4. Sie. Publikasi Washilah     : 2007

Indonesia adalah sebuah negara yang terletak diantara garis katulistiwa. Terdiri dari ratusan pulau-pulau dan berbagai suku kebudayaan. Sebelah utara terdapat negara Malaysia, Brunai Darussalam, dan Filipina, sebelah barat terdapat samudra Hindia, di sebelah selatan terdapat benua Australia dan di sebelah timur terdapat samudra Antartika. Hal tersebut mengakibatkan Indonesia menjadi jalur perdagangan yang melewati lautan antara negara yang berada di daerah utara dan di daerah barat atau selatan. Oleh karena itu Indonesia terletak di daerah yang sangat startegis.

Indonesia beriklimkan tropis oleh karena itu tanah-tanah di negeri ini sangat subur. Sehingga Indonesia pun menjadi salah satu paru-paru dunia karena banyak tumbuhan yang tumbuh disana. Binatang-binatang yang tinggal di Indonesia pun sangat banyak dan beragam, mereka hidup dengan menjalankan ekositasnya sebagai makhluk hidup. Indonesia pun terkenal dengan kayanya akan sumber bumi, baik itu minyak bumi, tumbuh-tumbuhan atau pun yang lainnya. Sehingga Indonesia terkenal sebagai pengekspor sayur-mayur dan rempah-rempah ke luar negeri.

Indonesia terdiri dari berbagai suku kebudayaan, hal tersebut membuat orang lain merasa tertarik untuk meneliti dan mengamati kebiasaan para suku kebudayaan tersebut. Hal ini terjadi karena Indonesia terdiri dari berbagai pulau yang terpisahkan oleh lautan sehingga mereka membangun komunitas dan kebiasaan mereka masing-masing. Akan tetapi walaupun berbada suku kebudayaan mereka dapat saling menghargai dan mendukung antar sesama manusiadan warga negara Indonesia. Sehingga jarang sekali terjadi pertikaian di dalam negeri Indonesia. Indonesia terkenal dengan sifat ramahnya dan tenggang rasanya. Sehingga hubungan kekeluargaan antar sesama sangat terasa.

Indonesia memiliki sejarah yang sangat panjang dan mengesankan. Bukan saja dari sejarah kebudayaan, kerajaan, perjuangan indoonesia dan yang lainnya akan tetapi dari sejarah keagamaan pun Indonesia memiliki sejarah yang sangat mengesankan, bukannya saja berasal dari agama Islam, budha, Hindu, Katolik,dan Kristen. Bahkan Indonesia pernah dimasuki oleh kepercayaan Komunis, hal ini berarti Indonesia memiliki daya tarik dalam bidang keagamaan untuk para warganya.

Indonesia memiliki semagat dan daya juang yang tinngi, walaupun Indonesia saat ini tertinggal akan tetapi hal tersebut tidak membuat Indonesia menyerah. Bangunan-bangunan yang berdiri tegar di Indonesia, membuktikan bahwa Indonesia akan terus berusa untuk mencapai impiannya dan menjadi negara yang maju. Seperti halnya ketika Indonesia dijajah, Indonesia terus berjuang melawan belanda walaupun sudah dijajah selama 350 tahun, akan tetapi Indonesia tidak menyerah untuk terus maju.

Masih banyak lagi kelebihan dan kebanggan negara Indonesia yang dapat mengangkat nama baik Indonesia di mata dunia, baik itu berasal dari pariwisatanya, kebudayaannya, semagat para warganya, dan hal-hal yang lainnya. Pulau bali salah satunya, sebagai asset pariwisata yang sangat terkenal di belahan dunia, pulau komodo yang terdapat jenis hewan yang sangat langka dan dilindungi, candi Borobudur sebagai kebudayaan yang tidak dapat di hapus di Indonesia, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu sebagai kesimpulan, bahwa banyak negara yang menganggap miring tentang Indonesia padahal mereka belum mengetahui tentang kelebihan dan sejarah yang dimiliki oleh Indonesia. Padahal negara Indonesia memiliki banyak kelebihan dan kebanggaan daripada mereka